Menangkal Penyebaran Covid-19 pada Lapas dan Rutan di Maluku

CEGAH COVID: Protokol kesehatan dijalani tahanan yang baru masuk Rutan Kelas II A Ambon sebagai upaya pencegahan Covid 19/ Foto Humas Rutan Ambon

KBRN,Ambon: Penyebaran virus Covid-19 yang masif dan cepat telah menjadi fokus seluruh lapisan masyarakat, termasuk jajaran Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Maluku.Apalagi  masih belum meratanya akses fasilitas dan tenaga medis serta kelebihan kapasitas penghuni  Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) di Maluku  saat ini, bisa menimbulkan risiko penularan Covid-19 yang tinggi.

 Data resmi  Divisi Pemasyarakatan Kemenkumham Maluku, di Maluku ada 14 Lapas dan Dua Rutan. Dari jumlah itu,  Empat Lapas tercatat masuk over kapasitas.  Terdata sejak Jumat 17 September 2021, jumlah tahanan dan narapidana (napi) yang menjadi Warga Binaan Pemasyarakatan  (WBP) Lapas Kelas II A Ambon misalnya, diangka  460 orang.  Ini melebihi daya tampung lapas karena hanya mampu menampung  300 orang. Lapas Kelas II B Piru Kabupaten Seram Bagian Barat, kini dihuni 134 tahanan dan napi sementara daya tampungnya untuk 100 orang.

Selanjutnya Lapas Kelas III Namlea Kabupaten Buru, hanya dapat menampung 75 tahanan serta napi, tapi kini sudah dihuni 82 orang. Di Lapas Kelas II Wahai, mampu menampung 30 orang, tapi kini dihuni 36  tahanan dan napi.

Selain itu,  Rutan Kelas II A Ambon juga masuk dalam daftar over kapasitas karena jumlah tahanan dan napi didalamnya ada 279 orang. Rutan ini sendiri memiliki daya tampung  hanya untuk 150 orang. Selanjutnya Rutan Kelas II B Masohi Kabupaten Maluku Tengah, hanya untuk 100 orang, kini dihuni 102 tahanan dan napi.

Pelaksana Tugas Divisi Pemasyarakatan (KadivPas) Kemenkumham Maluku Saiful Sahri , akui, jajaran pemasyarakatan di tingkat unit utama, kantor wilayah serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) mengambil langkah-langkah strategis dalam upaya pencegahan dan penanggulangan Covid-19. Antara lain adalah pengecekan kepada seluruh pegawai dan warga binaan pemasyarakatan (WBP) secara berkala.

"Untuk mencegah penularan Covid-19, Kemenkumham melakukan pengecekan kesehatan kepada petugas, narapidana, tahanan, dan anak melalui swab test antigen maupun tes PCR secara berkala," jelas Saiful, Senin (20/9/2021)

Cara lain mencegah penyebaran Covid 19 di dalam lapas dan rutan, pihaknya lanjut Saiful gencar menjalankan program Asimilasi Rumah sesuai dengan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Permenkumham) RI Nomor 24 Tahun 2021 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Asimilasi, Pembebasan Bersayarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyarat bagi Narapidana dan Anak dalam rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19.

"Sejak 2020 hingga 2021, jumlah tahanan dan napi serta Anak  dari berbagai lapas dan rutan di Maluku secara bertahap sudah jalani Asimilasi Rumah termasuk Pembebasan Bersyarat. Jumlahnya capai ratusan orang. Asimilasi ini masih diperpanjang   hingga Desember 2021. Kami akan terus berupaya cegah Covid 19 di semua  lapas dan rutan yang ada,"tegas Saiful.

Tak hanya lewat program Asimilasi Rumah, langkah mencegah Covid 19  dilakukan Kemenkumham Maluku melalui Divisi Pemasyarakatan dengan membatasi masuknya barang titipan pengunjung.

Langkah protokol kesehatan sudah pasti menjadi bagian utama,  termasuk dalam aturan penerimaan tahanan baru.Seperti dijalankan Rutan Kelas  II A Ambon, saat menerima Empat tahanan baru  pada Jumat (17/9/2021).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Rutan Kelas II A Ambon, Fifi Firda, mengungkapkan tahanan yang dikirim oleh pihak Kejari Ambon ialah tahanan yang berasal dari Rutan Kepolisian Daerah (Polda) Maluku.

Fifi akui, tahanan yang masih berstatus A II  itu, sementara masih dititipkan di Rutan Polda, Kepolisian Resor Kota Ambon, dan Badan Narkotika Nasional Provinsi Maluku.

"Hal ini guna mencegah terjadinya over kapasitas di dalam Rutan Ambon serta guna menindaklannjuti surat edaran Direktur Jenderal Pemasyarakatan Nomor: PAS-20.PR.01.01 Tahun 2020, yang mana tahanan yang dikirim ke Rutan ialah tahanan yang sudah berstatus AIII atau yang sudah inkracht,"ucap Fifi.

Menurut Fifi, proses penerimaan tahanan baru tetap dilakukan seperti penerimaan tahanan yang lainnya, serta tetap menerapkan protokol kesehatan. Sebelum melewati pintu satu, setiap barang bawaan tahanan akan disemprot dengan cairan disinfektan, mereka juga diwajibkan mencuci tangan, mengukur suhu tubuh, memakai masker, dan sudah melampirkan surat keterangan rapid test Antigen yang menyatakan sehat atau nonreaktif sebagai syarat pemberkasan.

Senada dengan Plt. Karutan Kelas II A Ambon, Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan, Jefry Persulessy menjelaskan, setiap tahanan akan melewati tahap pemeriksaan kesehatan lanjutan oleh petugas kesehatan Rutan Ambon.

Menurutnya, hal ini dilakukan guna memastikan kembali kesehatan tahanan saat diterima di Rutan dalam keadaan baik dan sehat.

"Guna menjaga keamanan dan ketertiban di dalam Rutan, setiap tahanan wajib menaati serta mematuhi aturan yang ada di dalam Rutan Ambon, yang mana dilarang memakai handphone, narkoba, serta barang-barang yang dilarang berada di dalam Rutan. Jika kedapatan maka akan kami tindak dengan tegas," ucap Jefry.

Selanjutnya, keempat tahanan ini akan dimasukkan kedalam ruang orientasi selama 14 hari untuk melakukan isolasi mandiri dan akan diawasi langsung oleh petugas agar tidak melakukan kontak langsung dengan WBP lainnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00