Ini Penjelasan BPS terkait Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan Maluku

KBRN, Ambon : Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Selain harus mampu mengurangi jumlah penduduk miskin, kebijakan penanggulangan kemiskinan juga diharapkan mampu mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku mencatat, periode Maret 2021, baik Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) maupun Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) mengalami penurunan. Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 3,758 pada September 2020 menjadi 3,576 pada Maret 2021. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 1,176 pada September 2020 menjadi 1,052 pada Maret 2021.

Penurunan kedua nilai indeks tersebut mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin semakin menyempit. Sesuai data, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan cenderung mengalami penurunan. Sementara, Indeks Keparahan Kemiskinan justru mengalami peningkatan di wilayah perkotaan.

Menurunnya nilai kedua indeks tersebut merupakan indikasi yang cukup baik bagi usaha usaha pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah. Ini juga menggambarkan bahwa penurunan tingkat kemiskinan sudah menuju ke arah yang lebih baik karena peningkatan kesejahteraan penduduk miskin menuju ke arah yang lebih merata. Namun perlu perhatian lebih dari pemerintah untuk daerah perkotaan, karena terjadi peningkatan nilai Indeks Keparahan Kemiskinan di daerah perkotaan, yang mengindikasikan ketimpangan pengeluaran antar penduduk miskin di perkotaan semakin lebar.

Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan di daerah perdesaan lebih tinggi dari pada perkotaan. Pada Maret 2021, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan untuk perkotaan hanya 0,94 sementara di daerah perdesaan mencapai 5,65. Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan  untuk perkotaan sebesar 0,21 sementara di daerah perdesaan mencapai 1,71.

Hal tersebut dapat  disimpulkan bahwa jiwa penduduk miskin di perdesaan akan lebih sulit untuk keluar dari kemiskinan, yang diperparah  dengan masih tingginya kesenjangan diantara penduduk miskin itu sendiri.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00