Kasus KDRT di Maluku Per Juli 2021, Capai 48 Kasus

KBRN,Ambon: Angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di provinsi Maluku meningkat dimasa pandemic covid-19 saat ini. Hal tersebut disampaikan Ketua Yayasan Lingkar Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LAPPAN) Maluku, Bay Hajar Tualeka. 

Berdasarkan data Yayasan LAPPAN, hingga Juli 2021, angka kasus Kekerasan terhadap perempuan meningkat, dimana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) capai 48 kasus, sementara kekerasan terhadap anak sebanyak 30 kasus, yang terdiri dari kasus pemerkosaan, pencabulan dan pelantaran anak.

"Jadi kasus KDRT dan Kekerasan Terhadap Anak meningkat di masa pandemic covid-19 ini. Kasus kekerasan seksual bagi anak tinggi,"ungkap Tualeka. 

Menurutnya, daerah dengan kasus KDRT dan Kekerasan Seksual terhadap anak adalah Kabupaten Seram Bagian Timur, Kota Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah. Untuk kasua KDRR selain kekerasan fisik juga terdapat kasus pelantaran ekonomi yang berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak. 

"Saat ini kami juga sementara melakukan pendampingan terhadap kasus KDRT pelantaran ekonomi. Dampingi pengurusan cerai, karena suaminya sudah nikah lagi, anak dan istri tidak dinafkahi,"ungkapnya.

Kendati perempuan memiliki beban yang cukup besar pasca terjadinya KDRT, sehingga LAPPAN berupaya mendorong peningkatan ekonomi dengan memberdayakan kemampuan mereka dalam berbagai aspek, salah satunya bercocok tanam. 

"Kita juga menggalang, mendorong perempuan untuk melakukan upaya peningkatan ekonomi keluarga, lewat  ekonomi solidaritas petani atau pun kegiatan lainnya sehingga punya penghasilan ekonomi disituasi sulit, karena perempuan punya beban banyak," jelasnya.

Sementara itu Riki, salah satu warga Maluku Tengah mengatakan, seharusnya kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak pernah terjadi, karena mereka merupakan masa depan daerah bangsa dan Negera.

"Saya sangat menyesali adanya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Karena mereka itu seharusnya di sayang dan dicintai, bukan dikasari. Apalagi ada kasus pemerkosaan terhadap anak di bawa umur, seharusnya itu tidak pernah terjadi," tuturnya. 

Dirinya berharap, ke depan Kabupaten Maluku Tengah dan Provinsi Maluku pada umumnya menjadi daerah yang aman dan nyaman bagi semua orang termasuk perempuan dan anak.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00