Ribuan Warga Dari 4 Desa Masih Mengungsi, 225 Rumah Rusak Di Malteng

KBRN, AMBON : Ribuan warga yang beasal dari empat  desa di Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) masih berada di tempat pengungsian,  pasca daerah mereka diguncang gempa berkekuatan M 6,1, Rabu (16/6/2021).

Warga masih bertahan ditenda pengungsian yang dibangun di hutan pada daerah ketinggian, menyusul masih terjadi sejumlah gempa susulan meskipun dalam skala kecil.

Warga yang mengungsi berasal dari desa Sounalu, Yaputih, Haya dan Tehoru.

Hingga Kamis  pagi,  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Tengah telah mendata,  terdapat sekitar 7.227  warga dari empat desa  yang masih mengungsi di hutan. Selain itu, 225  rumah  dan fasilitas lainnya yang rusak akibat gempa. 

Kepala BPBD Malteng Abdul Latief Key mengatakan,  dari data sementara, rumah warga  yang rusak di Yaputih  sebanyak 15 unit, Saunolu 70 unit, Tehoru 40 unit dan Desa Haya 18 unit, serta fasilitas milik pemerintah.

Selain bangunan rumah yang rusak, Talut penahan ombak juga patah di Tehoru  dan pagar gereja  serta tembok masjid retak di Desa Sounolu. 

“Data  kerusakan rumah ini  masih sementara. Kita masih terus melakukan peninjauan ke sejumlah desa dan dusun yang ada di kecamatan Teluti,”ungkapnya.

BPBD setempat kata Latief juga meninjau masyarakat yang sementara ini mengungsi di camp-camp pengungsian yang berada di hutan maupun lokasi dataran tinggi.

“Kita sudah mendata, jumlah yang mengungsi  di hutan dari 4 desa sebanyak 7,227 jiwa. Kita sudah salurkan bantuan berupa tenda, selimut dan tikar,”jelasnya.

Latief menyebutkan, hinagga kini BPBD Malteng  masih terus memonitor situasi terkini pasca gempa.

Masyarakat  juga selalu diimbau untuk tetap waspada dan siap siaga dalam menghadapi bahaya gempabumi maupun potensi tsunami, tetap pantau informasi yang dapat dipercaya dan tidak mudah percaya dengan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pasca Gempa Maluku Tengah hasil monitoring Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah terjadi setidaknya 13 (tiga belas) gempabumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M 3,5.

BMKG juga mengimbau agar masyarakat tetap  waspada terhadap gempa susulan dan potensi tsunami akibat longsor  di bawah laut bagi masyarakat di sepanjang Pantai Japutih sampai Pantau Apiahu Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Seram, Maluku. 

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati melalui keterangan tertulisnya meminta warga untuk  menjauhi  garis pantai menuju tempat tinggi.

BMKG  juga menyebutkan, potensi gempa bukan akibat gempa, namun longsoran di dasar laut, yang bisa memicu gelombang tinggi.

Berdasarkan hasil observasi muka laut stasiun Tehoru menunjukkan ada kenaikan muka air laut setinggi 0,5 meter. Hal ini diperkirakan akibat dari longsoran bawah laut.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00