KABETA Craft, Desain Tas dan Dompet Gunakan Kain Tanimbar

Foto: instagram Kabetacraft

KBRN,Ambon: Provinsi Maluku kaya keberagaman budaya yang melimpah hingga karya seni bernilai tinggi, seperti kain tradisional Tanimbar.

Jika dimanfaatkan dengan baik dan cermat, bisa mendatangkan nilai ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Salah satu bentuk kekayaan budaya itu dimanfaatkan Rumah Desain KABETA Craft,  pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) bidang kerajinan. Rumah Desain yang terletak di Jalan A M Sangadji Kota Ambon ini, sudah mampu menghasilkan beragam aksesoris, ribuan tas dan dompet dengan motif andalannya dari Kain Tanimbar.

Kain Tanimbar jadi pilihan di setiap desain semua produk yang ada, ternyata punya tujuan  untuk mempromosikan dan melestarikan Kain Tanimbar sekaligus kekayaan seni Maluku.

Founder atau pendiri KABETA Craft, Berkah Novita saat berbicara sebagai narasumber dalam Dialog Aspirasi Maluku di RRI Ambon, Rabu (29/6/2022) pagi, mengakui, usahanya ini ada sejak  2017 silam.  Melalui banyak bimbingan, pelatihan dan pendampingan dari berbagai pihak seperti Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku dan Kantor Perwakilan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Maluku, usahanya makin dikenal.

Novita bilang, ia sendiri mendesain semua produk. Meskipun dibantu beberapa pekerja, tapi memang tidaklah mudah. Bisa dibilang sempat jatuh bangun, apalagi saat pandemi Covid-19. Tapi, momen ini terus dihadang dengan semangat. Dampak  positifnya, pada Tahun lalu,  KABETA Craft ikut event Indonesia Shariah Economic Festival di Jakarta. Produknya diperkenalkan saat fashion show secara hybrid dan mendapat respon baik. Kemudian, produknya ini dijadikan cenderamata untuk  peserta forum G20-The3rd Sustainable Finance Working Group (SFWG) di Bali pada 14 hingga 15 Juni 2022. Pertemuan ini jelang puncak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Group of Twenty (G-20)  yang akan dihelat di Bali pada November mendatang.

"Saya sangat bersyukur produk pelaku usaha dari Maluku dijadikan cenderamata saat rangkaian kegiatan SFWG peserta G-20 di Bali. KABETA Craft didorong oleh Perwakilan Kemenkeu,  bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Maluku,"terang Novita.

Memang, untuk menjangkau pasar internasional dengan kain tradisional, maka desain  yang ditawarkan harus selera global atau yang disukai masyarakat dunia, bukan hanya di daerah. Selama ini, cara pemasaran KABETA Craft  melalui akun media sosial.

Selain itu, ada edukasi terhadap konsumen bahwa barang hasil kerajinan itu memang mahal dan desain gunakan motif kain tradisional  pembuatannya cukup rumit.

"Ya, jelas harus ada harganya, kalau konsumen umum itu maunya murah saja, padahal bahannya ini yang susah didapat.  Apalagi biaya transportasi cukup tinggi, ikut beri pengaruh pada harga  produk,"jelasnya.

Iapun memberi semangat bagi UMKM di Maluku agar  terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produk  melestarikan budaya dengan meningkatkan ekonomi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar