Di Kaki Gunung Von SBT, Mereka Mengajar Baca Tulis

KBRN, Ambon :  Meretas belenggu pendidikan tak harus dimulai dengan membangun sekolah. Kadang, perhatian kecil yang bertumpu pada niat dan kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi mereka yang terpinggirkan sudah cukup karena alam menyediakan ruang yang luas untuk belajar.

Seperti yang dilakukan sekelompok pemuda Atiahu Kecamatan Siwalalat Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Dengan kantong pribadi, mereka memulai langkah kecil dengan mengajar baca tulis bagi anak-anak pedalaman, agar kelak mereka dapat beradaptasi dengan peradaban modern yang terus berkembang.

Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa di pedalaman Siwalalat, terdapat komunitas-komunitas adat yang hidup terisolasi tanpa sekolah, listrik, jalan, jembatan dan jaringan komunikasi. Sebagian dari mereka masih mempertahankan agama nenek moyang, tetapi ada yang sudah memeluk agama Hindu. 

Memang, agak sulit,  bahkan mustahil, pemerintah membangun sekolah dasar di perkampungan yang dihuni sekian kepala keluarga  dengan jarak terdekat dari kampung lain berbilang tiga sampai lima kilometer. Namun setidaknya, ada upaya lain agar anak-anak pedalaman tidak terseret arus kebodohan akibat tak tahu baca tulis.

Fenomena ini rupanya menjadi bahan bacaan anak negeri Atiahu yang berhimpun dalam organisasi Lauwena Culture & Art Atiahu.  Hingga akhirnya pada Desember 2020, melalui sebuah diskrusus, mereka berkomitmen membuka sekolah rimba dengan mengajar baca tulis bagi anak-anak pedalaman, dimulai dari Kampung Ratanagiri Arama Gunung Von.

Kampung Ratanagiri Arama  Gunung Von berjarak kurang lebih 15 kilometer dari Negeri Atiahu.  Di sekitar kampung ini, terdapat beberapa perkampungan adat yang satu sama lain dipisahkan oleh bukit dan gunung, yakni  Kamu Kamu, Belam dan Denhan.

Untuk sampai ke kampung ini, dibutuhkan waktu 6 jam jalan kaki dari Atiahu, melewati sungai, lembah dan bukit. Bagi yang tidak tidak terbiasa naik gunung, waktu tempuh bisa mencapai 8 jam karena medannya cukup sulit.

Kampung Ratanagiri Arama Gunung Von dihuni sedikitnya 24 kepala keluarga, kata inisiator aksi yang juga Ketua Lauwena Culture & Art Atiahu M. Gantang Louw kepada RRI, Rabu (20/01/2021).  

Terdapat kurang lebih 50 anak usia sekolah dasar yang belum mengenyam pendidikan dasar alias masih buta huruf, bahkan ada yang sudah berusia 16 tahun tetapi tak tahu baca tulis.

"Kami yang berhimpun dalam organisasi ini memiliki semangat dan komitmen yang tinggi untuk mencerdaskan anak-anak. Kami ada 8 perempuan dan 15 laki-laki," ungkap tenaga pengajar Junaidi Namadullah, jebolan salah satu kampus ternama di Makassar.

Misi pertama mereka dimulai pada pertengahan Desember 2020, dengan berjalan kaki selama 6 jam, menyisir belantara bukit, lembah dan sungai. Tak hanya membawa ilmu, mereka juga membawa peralatan baca tulis, sembako dan pakaian layak pakai yang diamankan dalam ransel. 

Tiba di Kampung Ratanagiri,  mereka mengumpulkan anak-anak usia sekolah di rumah salah satu warga yang terbuat dari papan, kemudian memperkenalkan satu demi satu abjad bahasa Indonesia kepada anak-anak pedalaman, disertai  cara menulis dan membacanya. 

Mereka menghabiskan waktu sekian jam untuk mengajar baca tulis dan membimbing anak-anak yang ada di antaranya sudah berusia 10  - 16 tahun, hingga petang menjemput, lalu kembali ke pantai setelah bermalam satu hari di gunung.

Bercermin dari rentang kendali dan akses jalan yang sulit ke daerah pedalaman, Ketua Lauwena C&A Atiahu Gantang Louw langsung berinisiatif  mengadakan Sakolah Rimba di Kampung Ratanagiri Arama Gunung Von. 

"Dengan hadirnya hadirnya Sakolah Rimba, adik adik kita di Ratanagiri Arama Gunung Von bisa merasakan nuansa sekolah meskipun tidak dalam bentuk sekolah formal. Tentunya ini butuh kepedulian bersama," tegas Gantang Louw, yang juga alumni kampus Makassar.

Hal yang sama disampaikan staf pengajar Junaidi Namadullah. Menurutnya, dalam melaksanakan proses belajar mengajar di pedalaman, kendala yang umum dihadapi adalah bahasa. Karena itu, seorang pengajar tidak hanya dituntut memgandalkan ilmu yang dimiliki, tapi harus juga punya modal semangat dan empati.

"Kendala bagi kami dalam proses belajar mengajar yakni penyesuaian bahasa dan kebiasaan anak anak  Ratanagiri Arama Gunung Von. Namun kami berpikir bahwa itu bukanlah suatu kendala melainkan semangat dan motivasi untuk  memberikan senyum pendidikan buat mereka," ujar Junaidi.

Saat ini, tambah Junaidi, setelah lima kali naik gunung untuk mengajar, sebagian besar dari mereka sudah bisa menghafal huruf, bahkan ada yang sudah bisa membaca, mengeja dan berhitung.

"Prinsipnya, kita akan terus mengajar dan mendampingi mereka sampai mahir baca tulis. Kita juga akan menyuplai bahan-bahan bacaan agar mereka dapat  memiliki pengetahuan terhadap hal-hal baru yang belum dilihat. Kita bahkan sudah berpikir untuk memperluas wilayah binaan ke perkampungan lain yang berada di pelosok," demikian Gantang Louw.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00