Tangis Warga Assilulu Pecah di Pelukan Gandong

KBRN, Ambon : Prosesi adat dan budaya pada setiap negeri adat di Provinsi Maluku, tak bisa dilepas-pisahkan dari kehadiran pela gandong. 

Pela gandong yang merupakan suatu ikatan persatuan dengan saling mengangkat saudara ini, umumnya terdiri dari dua bahkan lebih negeri berlainan agama, islam dan kristen. 

Jika negeri yang satu menggelar acara adat, maka sudah pasti negeri yang menjadi pela gandong akan hadir lengkap dengan pakaian adat serta tarian-tarian budayanya.

Di sana, mereka akan menari bersama-sama untuk memeriahkan acara adat dimaksud. Selain itu juga, kehadiran pela gandong untuk semakin mengikat tali persaudaraan antara negeri-negeri tersebut. 

Seperti yang dilakukan masyarakat adat Paperu, Tial, Tulehu, Laimu, Sila dan Hulaliuw, Senin (17/1/2022), saat menghadiri acara pengukuhan adat Raja Negeri Assilulu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng)

Tujuh negeri ini merupakan negeri kakak beradik yang diikat dalam balutan ikatan pela gandong. 

Sayang, kehadiran mereka di Assilulu, cukup membuat mereka sedih. Hal ini dikarenakan adat yang mereka idamkan akan berjalan dengan baik, malah terjadi gelombang protes dari sesama masyarakat Assilulu.

"Kaka e, bicara akang bae-bae. Lihat ade ini, datang dari Laimu, Seram Selatan untuk meriahkan kaka pung acara," ucap salah satu warga Laimu dengan dialeg melayu Ambon saat mencoba menenangkan warga Assilulu dari kelompok protes.

Pantauan RRI Ambon, warga Laimu itu bahkan sempat menetaskan air mata melihat kericuhan dan aksi saling dorong saat acara pengukuhan raja Assilulu baru akan dimulai.

Kendati demikian, warga Assilulu dari Matarumah Kalauw Makau'e tetap saja menyampaikan protes. Mereka tak mau nilai-nilai sejarah dan adat negeri Assilulu diabaikan dalam acara tersebut.

Bukan saja gandong dari Laimu, gandong dari Negeri Paperu dan Sila pun demikian. Mereka mencoba untuk terus menenangkan massa aksi.

Bahkan, pembicaraan mereka sampai kepada tingkat adik kakak yang mengerti tentang nilai-nilai adat itu sendiri. Tangis pun pecah. Mereka saling berpelukan dan meminta maaf kalau jadinya seperti demikian.

"Gandong, katong mau hanya letakan nilai-nilai adat pada tempatnya. Katong malu kalau adat diinjak-injak. Maaf, kita hanya mau sesuatu yang benar," pungkas salah satu warga dari kelompok protes. 

Ditempat yang sama, Upulatu Pesia Nusa Telu, M Risad Pahlevi Ely juga meminta maaf kepada semua undangan yang hadir atas adanya insiden tersebut.

"Gandong dan semua undangan yang hadir, maaf kalau ada sedikit insiden warnai acara ini. Tapi sebagai kepala pemerintahan, tentu ini akan dibicarakan secara baik-baik agar supaya negeri Assilulu bisa aman, damai dan sejahtera," tutup Risad (Rafsanjani)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar