KPK Resmi Tahan Tagop S Soulisa di Rutan Polres Jakarta Timur, Terima Fee 10 Miliar

KBRN, AMBON : Mantan Bupati Buru Selatan Tagop Sudarsono Soulisa resmi ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Rutan Polres Jakarta Timur, Rabu (26/1/2022).

Penahanan terhadap mantan Bupati dua priode itu terhitung 20 hari ke depan. Ia bersama Johny Reynhard Kasman (JRK) yang merupakan orang kepercayaan Tagop dari pihak swasta itu, juga ikut ditahan. JRK ditahan di Rutan Polres Jakarta Pusat.

Sementara tersangka, Ivana Kwelju (IK) belum ditahan, karena tidak menghadiri panggilan penyidik KPK.

"KPK juga menghimbau agar IK bisa koperatif dan menghadiri panggilan penyidik. Untuk tersangka TSS ditahan di Rutan Polres Jakarta Timur, dan sementara tersangka JRK ditahan di Rutan Polres Jakarta Pusat. Ditahan terhitung 20 hari kedepan sejak hari ini," ungkap Wakil Ketua KPK, Lili Pintauli Siregar dalam konfrensi pers yang berlangsung di Kantor KPK, yang disirakan secara langsung lewat Facebook dengan akun KPK, Rabu.

Lili menjelaskan, penetapan tersangka dan penahanan terhadap suami dari Bupati Bursel saat ini, Safitri Soulisa dan dua rekannya itu terkait dugaan gratifikasi dan TPPU sejumlah paket proyek di Kabupaten bertajuk Barasehe itu.

Ia menjelaskan, untuk tersangka Tagop sejak menjabat sebagai Bupati Bursel periode 2011-2016 dan periode 2016-2021 telah memberikan atensi lebih kepada Dinas PUPR Bursel dan Bina Marga.

Dimana, semua paket proyek yang ada di dua lembaga itu dilihatnya dan ikut menentukan pemenang dalam pelaksanaan paket proyek, baik bersumber dari APBD Bursel maupun yang bersumber dari dana DAK.

Dengan tentunya, Tagop menjanjikan Fee  perpaket proyek 7 persen sampai 10 persen. Begitupun dengan Kontrak proyeknya, juga dipatok fee oleh tersangka Tagop 7 persen hingga 10 persen.

Semua hadia berupa uang tunai itu, ditransfer lewat tersangka JRK menggunakan rekeningnya. Kemudian, oleh JRK kembali mentransfer uang ke rekening pribadi milik Tagop. Diduga penerimaan fee yang terima Tagop adalah sebesar Rp. 10 miliar rupiah.

Dari total Rp. 10 Miliar, lanjut Lili, juga diberikan ke tersangka Tagop oleh tersangka IK, karena mengerjakan salah satu proyek yang bersumber dari dana DAK tahun 2015.

"Penerimaan uang Rp. 10 miliar dimaksud, ini diduga TSS memberi sejumlah aset dengan menggunakan nama pihak-pihak lain dengan tujuan menyasmarkan asal usul uang yang diterimanya dari para rekanan kontraktor itu," jelas Lili.

Akibat perbuatan ketiga tersangka, untuk tersangka Tagop dan JRK dijerat dengan pasal 12 huruf a atau huruf b atau pasal 11 dan pasal 12 B undang undang nomor 31 tahun 1999 tentang Tipikor sebagaimana yang diubah dengan undang undang nomor 20 tahun 2001 junto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP, dan UU TPPU.

Sedangkan untuk tersangka, IK diganjar dengan pasal 5 ayat 1 huruf a dan B UU Tipikor.

KPK juga telah menyita aset dari pada tersangka Tagop, yang diantaranta Rumah dan  Apertemen. "Aset rumah san Apertemen," pungkas Lili.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar