Jaksa Kantongi Tersangka Banda Naira

KBRN, AMBON : Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon Cabang Banda Naira dikabarkan telah mengantongi calon tersangka dalam perkara dugaan korupsi proyek pekerjaan Standar Runway Bandara Banda Naira, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, tahun anggaran 2014.

Status kasusnya sudah dalam tahap penyidikan. Saksi-saksi, sudah sementara diperiksa. "Kalau barang bukti sudah lengkap, maka langsung kita tetapkan tersangka," kata Kepala Cabang Kejari (Kacabjari) Ambon di Banda Naira, Salahudin, melalui Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Wahyudi Kareba via selulernya, Jumat (3/12/2021).

Pekerjaan Standar Runway Bandara Banda Naira diketahui dikerjakan oleh PT. Parama Andika Raya.

"Pemeriksaan saksi-saksi masih jalan, semua pihak terkait kita panggil untuk diperiksa. Tidak ada yang kami tutup-tutupi dalam proses penyidikan perkara ini. Siapapun yang patut diduga memperkaya diri sendiri atau orang lain, harus bertanggungjawab," jelas Salahudin.

Menurutnya, dalam perkara ini, terdapat dua terpidana yang telah di eksekusi oleh Kejaksaan Negeri Ambon Cabang Banda Naira ke Lapas Kelas II A Ambon. Yakni Marthen F. Parinussa dan Sijane Nanlohy.

"Dua terpidana ini sudah di eksekusi berdasarkan putusan kasasi dari Mahkamah Agung (MA) RI, yang menjatuhkan hukuman pidana penjara selama 4,6 tahun," terangnya.

Informasi yang berhasil dihimpun media ini, bahwa kasus ini kembali dibuka oleh Kejari Ambon Cabang Banda Naira berdasarkan petunjuk dari MA. Sebab, berdasarkan fakta persidangan, terungkap pengakuan beberapa saksi yang turut menggunakan uang proyek untuk kepentingan pribadi. Selain itu, juga ada dugaan keterlibatan sejumlah pihak lainnya.

Misalnya, Welmon Rikumahu yang merupakan orang kepercayaan Marthen Pelipus Parinussa mengakui secara terang-terangan dalam persidangan, bahwa dirinya menerima uang sebesar Rp1.078.800.000 dari Marthen Pelipus Parinussa, untuk mengatur pekerjaan pembangunan Standar Runway Bandara Banda Naira tahun 2014.

Dari total anggaran senilai Rp1.078.800.000 tersebut, Welmon mengaku menggunakan Rp 340.050.000 juta untuk kepentingan pribadi, yakni membeli satu unit mobil truck second dengan harga Rp 138 juta, dan biaya perbaikan mobil tresebut sebesar Rp 3 juta.

Sementara berdasarkan ketentuan Pasal 185 Ayat 1 KUHP, menyebutkan bahwa keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan. Sayangnya, Kejaksaan tidak menetapkan Welmon Rikumahu sebagai tersangka hingga saat ini.

Sedangkan Sijane Nanlohy yang menerima fee perusahaan senilai Rp55 juta, ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Negeri Ambon Cabang Banda.

Selain Welmo Rikumahu, ada juga dugaan keterlibatan Petrus Marina selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Baltasar Latupeirissa selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Ruslan Djalal selaku bendahara proyek, Norberta Rerebulan selaku Ketua Unit Layanan Pengadaan Barang dan Jasa (ULP), Sutoyo selaku Direktur CV. Gria Persada (Konsultan Pengawas).

Namun terhadap mereka, Kejaksaan Negeri Ambon Cabang Banda Neira hanya menjadikannya sebagai saksi. Padahal berdasarkan fakta persidangan, mereka juga punya andil yang besar yang mengakibatkan kerugian keuangan negara dalam pekerjaan Bandara Banda Naira. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar