Lucu, Dilporkan Januari 2020, Tersangka Di Oktober 2021

KBRN, AMBON : Kasus dugaan penipuan dan penggelapan yang dilaporkan Meice Hatuneri pemilik Swalayan Oasis di Kota Ambon, sejak  Januari 2020, ternyata  baru terlihat progresnya di  Oktober 2021. 

Hatuneri melaporkan pengusaha, Cece Eka dan Putidarma alias Tanake sebagai terlapor. 

Menariknya,  polisi membutuhkan waktu  sangat lama untuk menetapkan keduanya sebagai tersangka.

 Hampir 2 tahun lamanya  Ditreskrimum Polda Maluku menangani  laporan tersebut, dan akhirnya pada  11 Oktober 2021 kemarin, keduanya  baru menyandang status tersangka.

Lambannya penanganan laporan oleh pihak kepolisian ini menimbulkan banyak spekulasi.Mulai dari   polisi diduga tidak serius, hingga kasus ini   disebut  sarat  kepentingan.

Kedua pengusaha ini dilaporkan  karena diduga  telah melakukan penipuan dan penggelapan atas barang sembako yang diambil dari swalayan milik pelapor, berdasarkan  kontrak kerjasama kedua belah pihak di tahun 2018. 

Barang yang diambil berupa  sembako nilainya  mencapai Rp. 3.841.679.500 sekian. Namun tersangka cece Eka,  sudah membayar sebesar Rp  3,2 miliar yang dibuktikan dengan bukti transfer serta bukti kwitansi lainnya. 

Setelah ada proses pembayaran, kasus ini sudah tidak pernah terdengar lagi. Namun alangkah terkejutnya kedua pengusaha ini, karena  tiba-tiba telah ditetapkan  sebagai tersangka.

Padahal keduanya juga sudah nyaris lupa dengan laporan yang   sudah sangat lama tersebut.

Pengacara, Marthen Fordakotsu yang mewakili kliennya, Cece Eka, Senin (18/10/2021) di Ambon  mengaku kesal dengan kinerja penyidik Ditreskrimum Polda Maluku yang dipimpin Kombes Pol Sih Harno. 

Menurutnya, penanganan  perkara kliennya ini  sudah melewati batas waktu atau daluwarsa. 

"Ini penegakan hukum  yang salah. Ada apa ini?. Ini sudah melewati batas waktu atau daluwarsa sebagaimana diatur dalam UU yang hanya mengisyaratkan enam bulan penangannya. Kasusnya dilaporkan Januari 2020, terangka baru di 11 Oktober 2021 kemarin, ini kan lucu," kesal pengacara Cece Eka itu. 

Marthen menjelaskan, kasus yang dilaporkan oleh pemilik Oasis ini juga sangat keliru. Pasalnya,  polisi dengan kewenangannya menjeret kliennya dengan dugaan melakukan tindak penipuan dan penggelapan. 

Penipuan dan penggelapan dimana, kata dia, sementara pengambilan barang sembako antara kliennya dengan Oasis itu berdasarkan adanya kontrak  kerjasama.

 Saat itu, barang sembako yang diambil kliennya senilai Rp. 3.841.679.500 lebih. Kemudian, oleh kliennya dalam waktu yang berbeda sudah membayar hingga saat ini mencapai  Rp. 3,2 miliar. 

Sudah mengembalikan Rp.3.2 M ke Meice (pemilik Oasis) dibuktikan dengan retur pengembaliam barang serta bukti tranfer lainnya. 

"Di Februari 2018 klien saya membayar Rp.884.193.500, bulan Maret 2018 1.453.609.500, April 2018 Rp. 664.580.000. Total yg dilunasi 3.002.383.500. Kembali Melakukan pembayaran Rp. 150.061.000, sehinga hutang berkurang menjadi 662.252.000.Nilai ini dikurangi barang rusak yg dikembalikan 445.557.000 ada tanda terima semua. Dikurangi lagi barang rusak tapi tdk mau diterima oasis. Sehingga kalau mau ditotal sisa hutang klien saya Rp. 114.748.000," rinci Marthen. 

Selain itu, lanjut pengacara muda ini, unsur penipuan dan penggelapan yang dipakai Polisi untuk menetapkan klienya sebagai tersangka itu dimana?. Sementara, pengambilan sembako oleh kliennya sudah sesuai dengan kerajsama antara Oasis dengan kliennya. 

Kasus ini, akui Marthen, awalnya ditangani oleh Polsek Sirimau sebelum diambil alih oleh Ditreskrimum Polda Maluku. Dalam penyelidikan itu, pihak kepolisian memaksa Putidarma alias Tanake untuk menandatangani pernyataan piutang. Konsepnya sudah disipkan oleh pihak Oasis yang katanya hanya untuk formalitas dengan nilai Rp.700 juta. 

"Nah ini yang dipakai bukti oleh Polda untuk menyeret klien kami. Kasus ini sendiri terbit dua SPDP. SPDP Pertama di tahun 2020 yang kemudian dicabut lagi. Jaksa saat itu pakvAwaludin. Awaludin malah mengaku ke Polisi kalau kasus ini bukan pidana melainkan perdata. Begitupun saat klien saya bersama pengacara Syukur Kaliki saat bertemu dengan mantan Kapolda pak, Baharudin Djafar yang saat itu pak Dirreskrimum juga ada. Disitu menekankan bahwa kasus ini bukan pidana. Klien saya ditwarkan untuk ganti penyidik tapi, klien saya tudak mau. Jadi ada apa dikasus inu, polisi terkesan mencari keuntungan dari balik kasus ini," tukasnya. 

Bahkam, saat kliennya (Cece Eka) diklarifikasi oleh penyidik sudah disampaikan bukti retur pengembalian barang dan bukti transfer. Namun diabaikan penyidik. Minta periksa saksi yang mengetahui juga diabaikan penyidik. Namun dalam perjalanannya,  ternyata tidak lagi  terdengar prosesnya,  kliennya diam-diam ditersangkakan 11 Oktober 2021.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00