Perbuatan Raja dan Bendahara Haruku Rugikan Negara Rp. 1 Miliar

KBRN, AMBON : Raja Negeri (Desa) Haruku, Zefnath Ferdinandus alias ZF dan Bendaharanya Samuel Ferdinandus alias SF ditetapkan penyidik sebagai tersangka korupsi. Akibat perbuatan keduanya, Negara dirugikan mencapai Rp. 1 miliar.

Dua bersaudara ini terjerat kasus dugaan korupsi Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) Negeri Haruku, Kecamatan Haruku, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) tahun anggaran 2017-2018.

"Perbuatan keduanya merugikan negara mencapai Rp. 1 miliar," sebut Kepala Kejari Ambon, Dian Fris Nalle kepada wartawan di kantor Kejari setempat, Senin (27/9/2021).

Menurutnya, kerugian tersebut didapatkan dari hasil audit Inspektorat Kabupaten Maluku Tengah untuk dua tahun anggaran yakni, 2018-2019.

Sementara, terkait peran keduanya, Kajari yang saat memberikan keterangan  didampingi Kasipidsus Kejari Ambon, Ekhart Palapia enggan berkomentar. Kata dia, semuanya akan dibuka saat persidangan perkara ini bergulir di Pengadilan nantinya.

"Jangan dibuka disini, nanti kalau sudah di Pengadilan semuanya akan terbuka. Yang pasti, saya perintahkan Kasipidsus dalam bulan ini kasusnya sudah bisa kita limpahkan ke Pengadilan," jelas Kajari.

Diketahui, kasus ini dilaporkan warga setempat. Kemudian, Kejaksaan memberikan  rekomendasi kepada tim Inspektorat Kabupaten Maluku Tengah untuk melakukan audit terhadap DD tersebut sejak Desember 2019 lalu.

Data yang diperoleh dari warga setempat, Raja Negeri Haruku dalam pengelolaan AD dan ADD tahun 2017-2018 diduga banyak fiktif, sementara LPJ 100 persen dikerjakan.Seperti item pengadaan  BPJS tahun 2017 sebanyak 83 orang dengan anggaran Rp 22.908.000 dan BPJS tahun 2018 sebanyak 234 orang tanpa nama, namun anggarannya Rp 64.584.000 dicairkan.

Kemudian, dalam kasus bantuan rumah tahun 2018, dimana material baru datang 31 Juni 2019 sebesar Rp 135.330.000.Tak hanya itu, bantuan pangan 1 ton beras tahun 2018 sebesar Rp. 10.361.679 dalam RAB terealisasi, sementara masyarakat tidak pernah menerima beras dari aparat desa.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00