Bantah Ada Upaya 86 di Kasus Gedung MIPA, Kajari : Kita Lagi Serius

KBRN, AMBON : Proses  penyidikan  dugaan korupsi pembangunan gedung Fakultas MIPA Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon Tahun 2019-2020 yang menelan anggaran Rp. 60,9 Miliar masih terus  berjalan di Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon yang dipimpin First Nalle. 

Sejumlah pihak telah dipanggil untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi, termasuk Michael Ong, dari PT. Bumi Aceh Citra Persada selaku rekanan. 

Disaat mata publik tertuju untuk mengikuti perkembangan proses penyidikan yang dilakukan korps adhyaksa, tiba-tiba mencuat kabar tak sedap.

Diduga ada upaya untuk menyelamatkan  pihak-pihak tertentu yang ikut bertanggungjawab dalam proyek tersebut. Bahkan untuk memuluskan  rencana tersebut,  pendekatan akan dilakukan terhadap sejumlah jaksa. 

Sumber bahkan menyatakan, Kajari Ambon First Nalle serius untuk menangani kasus tersebut, namun diduga akan ada upaya intervensi yang dilakukan dari pihak-pihak lain. 

"Harus kawal itu, ada upaya 86. Dong (mereka) pakai beberapa Jaksa didalam," ucap sumber yang enggan namanya diekspos. 

Menyikapi itu, Kepala Kejari Ambon, First Nalle yang dikonfirmasi media ini membantah informasi tersebut.  Kajari First Nalle bahkan menegaskan, pihaknya bersama penyidik  serius  untuk mengusut kasus tersebut. 

"Tidaklah. Ini kita lagi serius kerja ya. Nanti ya, akan saya sampaikan kalau semua sudah seles. Biarkan kami bekerja, kita lagi serius ni," tandas Kajari singkat via seluernya, saat dihubungi, Kamis (5/8/2021). 

Sementara itu, Kepala Balai Prasarana Pemukiman Wilayah Maluku, Abdul Halil Kastela bersama Satker atas nama Anwar  telah menjalani  pemeriksaan intensif diruang Pidsus Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon, Kamis (5/8/2021).Keduanya  diperiksa tim  penyidik yang diketuai  Kasipidsus kejari setempat, Ruslan Marasabessy sejak pukul 10.00 Wit. 

"Dong sedang diperiksa. Satu Kepala Balai Pemukiman, Kastela dan Satker atas nama Anwar. Pemeriksaan dari pukul 10.00 Wit, tadi," kata sumber. 

Keduanya, kata sumber, merupakan dua dari aktor kejahatan proyek miliaran rupiah yang dikerjakan oleh Michael Ong anak dari Bos Hai yang merupakan salah satu kontraktor ternama di Maluku. 

"Ini mafia. Sementara masih pemeriksaan," sambung sumber itu singkat. 

Kepala Kejari Ambon, First Nalle  juga membenarkan adanya pemeriksaan terhadap Abdul halil Kastela dan Anwar. "Ya benar sedang diperiksa,"ucapnya.  

Menyinggung terkait peran kedua saksi yang terindikasi kuat aktor dibalik adanya indikasi kerugian keuangan Negara dalam pelaksanaan proyek pendidikan ini, Nalle enggan berkomentar. 

"Nanti ya, selesai pemeriksaan baru saya jelaskan ya," tukasnya. 

Sehari sebelumnya, pelaksana proyek yang diketahui dari  pihak PT. Bumi Aceh Citra Persada atas nama Michael Ong  telah diperiksa penyidik, Rabu (4/8/2021). 

Kepala Kejari (Kajari) Ambon, Frist Nalle yang dikonfirmasi membenarkan pemeriksaan terhadap kontraktor yang mengerjakan proyek senilai Rp. 60,9 Miliar tersebut.

"Di dokumen kontrak ada namanya tu?. Anaknya (Behay). Sudah kita periksa, ni masih ada pemeriksaan lagi ni,"kata Nalle menjawab pertanyaan wartawan yang dikonfirmasi via selulernya, Rabu (4/8/2021). 

Menyinggung soal apakah penyidik sudah mengantongi siapa  yang bakal dimintai pertanggung jawaban hukum dalam kasus tersebut, Kajari enggan berkomentar.

Nalle hanya  memastikan kasus tersebut akan segera dituntaskan secepatnya.

"Nanti ya, untuk sementara belum bisa disampaikan. Nanti kita rampungkan semuanya baru kita sampaikan ke kawan-kawan," ucapnya singkat sambil menutup ponsel.

Sebelumnya Kepala Kejaksaan Negeri Ambon, Dian Fris Nale, Rabu (28/7/2021) lalu  menyebutkan, dugaan korupsi proyek pembangunan gedung perkuliahan Fakultas MIPA dan Marine Center di Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon senilai Rp 60,9 miliar, di Balai Balai Prasarana Pemukiman Wilayah Maluku ditingkatkan statusnya ke penyidikan berdasarkan hasil ekspos perkara tim penyelidik Kejari Ambon tanggal 27 Juli 2021.

“Kami publikasikan sejak awal agar pers bisa memonitor kinerja Kejari Ambon dan kami sudah menerbitkan surat perintah penyidikan dan surat tembusan ke KPK hari ini,” kata Kajari.

Jaksa kata dia, telah menemukan bukti awal dugaan penyimpangan terhadap proses pekerjaan tersebut, mulai dari proses lelang hingga pelaksanaan pekerjaan yang memang patut diduga telah menimbulkan kerugian negara.

 “Saksi dan alat bukti yang sudah didapatkan jaksa berupa dokumen atau surat-surat dan akan dikembangkan dalam proses penyidikan. Kami juga sudah melibatkan ahli untuk menemani jaksa dalam pelaksanaan proses penyidikannya,” tegasnya.

Nale mengaku, pihaknya telah meminta keterangan dari  11 orang, termasuk Kepala Balai Pelaksana Pembangunan Pemukiman Wilayah Maluku, Halil Kastella, kemudian PPK, Kasatker, BP2JK atau Balai Lelang, termasuk pihak Unpatti.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00