Berkas Johana Soplanit Tersangka Pembebasan Lahan Tawiri Masuk Pengadilan

KBRN, AMBON : Tersangka Johana Soplanit alias JRS menunggu diadili di Pengadilan Tipikor Ambon, menyusul berkas perkaranya telah dilimpahkan Penuntut Umum Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku. 

JRS merupakan salah satu dari empat tersangka, dugaan korupsi anggaran Pembebasan Lahan Milik Negeri Tawiri untuk Pembangunan Dermaga dan Sarana/Prasarana Lantamal IX Ambon Negeri Tawiri tahun 2015.

"Sudah tahap II, dan berkasnya sudah kita limpahkan ke Pengadilan," ungkap Kasi Penuntutan Kejati Maluku, Ahmad Atamimi kepada media ini, Kamis (29/7/2021). 

Ia menjelaskan, dengan dilimpahkan berkas JRS, maka selanjutnya akan menjadi kewenangan pengadilan untuk mengadili perbuatan JRS, termasuk tiga tetsangka awal yang sudah dilimpahkan ke Pengadilan lebih awal. Mereka adalah, Raja Tawiri, Josep N. Tuhuleruw dan mantan raja Josep Tuhuleruw, serta Saniri Negeri berinsial JRT.

"Jadi tinggal sidang saja. Kalau yang tiga pertama, sudah baca dakwaan," jelas dia. 

JRS saat ini sudah ditahan di Lapas Perempuan Ambon. Dibalik penahananya Jumat (23/7/2021) terlihat haru saat itu. Menggunakan rompi merah bertuliskan tahanan Kejaksaan Tinggi Maluku, JRS terlihat menguatkan keluarganya sebelum masuk Mobil tahanan yang mengantarkan dirinya ke Lapas Perempuan Ambon. 

Nampak berbincang dengan keluarganya didepan kantor Kejati Maluku. Waktu menujukan 19.31 Wit saat itu. Salah satu keluarganya terlihat sedih seakan tidak ingin tersangka ditahan. Ia lalu menancapkan ciumanya dipipi kiri Ibu Ana sapaan tetsangka. 

Tidak berlama-lama, tersangka langsung menuju mobil tahanan menuju Lapas Perenpuan. Ia ditahan selama 20 hari kedepan. 

Dalam perkara ini, Otoritas Kejati Maluku membeberkan perbuatan korupsi tetsangka. Mereka menyebut, tersangka menikmati duit hingga Rp. 1,1 Miliar dari total Rp. 3,8 miliar hasil perhitungan Inspektorat Provinsi Maluku dalam kasus tersebyt.

"Tersangka ngakunya pemilik lahan, segingga ia mendapatkan Rp. 1.1 Miliar dari Rp. 3,8 miliar pengadaan lahan itu," akui Kepala Kejati Maluku, Rorogo Zega kepada wartawan di Kantor Kejati Maluku, Jumat (23/7/2021). 

Tersangka, lanjut Kejati Maluku ditetapkan dalam daftat pencarian orang (DPO) karena tidak mengindahkan panggilan penyidik selama tiga kali. Kemudian penyidik berinisiatif berdasarkan hukum, melakukan penangkapan dirumahnya yang terletak di Desa Tawiri. 

"Saat penangkapan tidak ada perlawanan. Kita periksa sebagai tersangka, langsung ditahan. Penahanan selama 20 hari kedepan di Lapas Perempuan. Kita upayakan minggu depan berkasnua sudah bisa dilimpahkan ke Pengadilan," pungkas Kajati.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00