Buka Workshop P2KB, Hidayat Ingatkan Nakes Harus Ikuti  Perubahan Teknologi Dan Kesehatan

KBRN, AMBON : Sekretaris  Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI) dr. H. Muhammad Budi Hidayat secara resmi membuka Workshop Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (P2KB) Tenaga Kesehatan (Nakes) Wilayah Ambon, dengan melibatkan Ikatakan Apoteker Indonesia (IAI) dan Perhimpunan Ahli Epidemologi Indonesia (PAEI).  

Kegiatan yang berlangsung di Santika Hotel, Jumat (05/07/2022), dilaksanakan oleh Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia, didukung oleh Kementerian Kesehatan, dibawah sorotan tema besar "Tingkatkan ketrampilan dan kompetensi anggota organoisasi Profesi IAI dan PAEI".

Dalam sambutannya secara daring, Sekrteris KTKI dr. H. Muhammad Budi Hidayat, mengatakan,  keberlanjutan pembangunan kesehatan hampir 80 persen sangat dipengaruhi oleh ketersediaan tenaga kesehatan (Nakes) yang cukup merata dan berkompeten. 

Bahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 difokuskan pada pembangunan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), yang merupakan modal utama pembangunan secara keseluruhan.investasi. 

Dimana upaya produksi SDM berkualitas dan berdaya saing memberikan efek paten dalam mengubah peradaban dan diharapkan dapat membawa perbaikan sistim kesehatan secara keseluruhan. Diakuinya, indeks pembangunan manusia Indonesia saat ini masih berada pada angka yang tidak begitu menggembirakan, terlebih lagi di masa Pandemi. 

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa indeks pembangunan manusia mengalami penurunan drastis sejak tahun 2019-2020 hanya 0,03 persen dari sebelumnya 0,17 persen.  Kondisi Pandemi yang terjadi selama dua tahun ini, kata Hidayat menyadarkan semua pihak,  bahwa pembangunan teknologi informasi dan kerjasama interprofesionalisme mesti segera dibangun, dalam konteks pembangunan kesehatan. 

"Pandemi memberikan kita pelajaran bahwa sebenarnya sistim kesehatan kita masih sangat lemah, kurangnya kompetensi, profesional dan kerjasama interprofesional yang belum terbentuk, turut menyumbang kelemahan kita dalam menangani pandemi,"tuturya. 

Belajar dari pandemi, kementerian kesehatan mencanangkan tranformasi kesehatan yang didukung oleh enam pilar, dengan tujuan memberikan arah pembangunan, baik dalam meningkatkan cakupan,  jugastrategi memperkuat ketahanan kesehatan. 

Pada pilar kelima, SDM kesehatan, nakes profesional, pemerhati organisasi profesi dan antar strakeholder mesti mampu menjawab masalah SDM kesehatan, khususnya kompetensi tenaga kesehatan. 

"Potensi tenaga kesehatan mesti terus berkembang mengikuti perubahan teknologi dan kesehatan yang akan sangat dengan hal baru, maka itu kompetensi perlu dikembangkan 4C Connect, Capablem Count, dan Courage,"ungkap Hidayat. 

Melalui kegiatan ini, dirinya berharap para ketua profesi, narasumber dan seluruh peserta dapat berperan aktif dalam memiliki kapasitas belajar yang lebih tinggi, terutama dalam hubungan masing-masing profesi untuk menjawab situasi terkini, agar mampu berinovasi dalam memberikan pelayanan yang baik dan optimal kepada masyarakat.  Sementara itu, Ketua Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) Dr. dr. Trihono Msc mengakui,  workshop  memiliki arti sangat penting dalam menjaga kualitas kompetensi dan profesiionalitas Nakes. 

"Kalau sudah bekerja harus tetap dibina, ketrampilan harus tetap bagus, perkembangan ilmu terus berkembang maka harus mengikuti perkembangan itu, maka itulah dilaksanakan kegiatan ini,"ucapnya. 

Dirinya berharap,  kegiatan ini dapat dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah setempat dalam meningkatkan kualitas nakes. 

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, Zulkarnain menjelaskan pembangunan kesehatan nasional dan daerah diarahkan untuk meningkatkan kerja kesehatan masyarakat yang setingg-tingginya.  Keberhasilan program pembangunan kesehatan tergantung pada peran dari SDM kesehatan atau nakes yang berkompeten. Untuk itu, dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan diibutuhkan nakes yang memadai dari segi kaulitas, kuantitas, maupun penyebarannya, untuk dapat menjalankan peran dan fungsi, pencapaian pemnbangunan kesehatan yang optimal. 

Menurutnya, P2KB merupakan pembinaan bagi profesi nakes untuk meningkatkan profesionalisme. 

“Ini merupakan  salah satu unsur yang perlu diperhatikan  dalam sistem  pengendalian mutu nakes sebagai upaya dalam meningkatkan pelayanan keseatan secara efektif, efisien, bermutu dan bertanggunfgjawab secara profesional. 

Seperti yang diatur dalam UU nomor 36 tahun 2014 tentang nakes,diamantkan bahwa setiap nakes yang menjalankan praktek wajib memiliki STR yang berlaku selama lima tahun,  dan dapat diregistrasi ulang jika memenuhi pesryaratan. salah satunya persyaratan dimaksud terpernuhi kecukupan dalam kegiatan pelayanan pendidikan dan kegiatan ilmiah lainnya.,”bebernya. 

Berdasarkan sumber dan sistim informasi SDM dari SDMK Kemenkes tanggal 31 juli 2022 di promal,  tercatat b jumlah SDM kesehatan 18.413 orng tediri dari ASN 8395, non ASN 10.018 orang.  Nakes yang aktif berjumlah 14.601 orang dan memiliki STR 7.339 orang. 

Sedangkan Nakes memiliki SIP 3224 orang, masa aktif STR kurang dari enam bulan sebanyak 3 orang, dan jumlah STR kadarluasa 2.245 orang. 

"Untuk nakes yang belum memiliki STR, menandakan nakes tersebut belum tercatat secara keabsahan sebagai nakes berkompeten. sedangkan pembangunan di bidang kesehatan harus betul-betul  dilaksanakan oleh nakes yang bermutu, profesional, serta siap bersaing memenuhi pelayanan kesehatan yang berkualitas, aman, terjkangkau, serta mengikuti perkrembangan ilmu pengetahuanj dan tekonologi,"jelasnya. 

Zulkarnain berharap 200 lebih peserta yang terlibat dalam workship ini dapat terus meningkatkan kualitas program pengembangan keprofesional, baik pengetahuan, ketrampilan, maupun sikap dalam membangun kesehatan terutama di provinsi Maluku. Disamping itu, perlu ada kerjasama baik lintas program maupun lintas sektor khususnya di bidang kesehatan, sehingga dalam pelaksanaan SDM maupun pelayanan kesehatan dapat berjalan dengan baik. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar