Anggaran Operasional RSUP Leimena Terjun Bebas, 71 Tenaga Outsourcing Jadi Korban

KBRN, Ambon : Sebanyak 71 tenaga outsourcing yang bekerja di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Johannes Leimena Ambon, diberhentikan atau dipecat. 

Puluhan tenaga outsourcing yang adalah putra-putri Maluku ini, kembali menjadi pengangguran terhitung sejak 1 Januari 2022. Mereka terbagi dari sebanyak 14 orang pramusaji, 14 karyawan security dan 43 orang tenaga cleaning service. 

Direktur Utama RSUP Leimena Ambon, drg Saraswati mengatakan, pihak RSUP Leimena mengambil langkah tersebut karena harus menyesuaikan dengan alokasi anggaran yang diperoleh dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes)

Yang mana, anggaran belanja operasional rupiah murni RSUP dr Johannes Leimena Ambon tahun 2022, hanya berjumlah Rp 20,9 miliar. 

Anggaran ini berkurang sekitar 88 persen dibandingkan dengan anggaran belanja operasional tahun 2021 kemarin, yang dialokasikan sebesar Rp 173.2 miliar. 

"Salah satu langkah penyesuaian yang dilakukan untuk mata anggaran tersebut agar bisa memenuhi kebutuhan belanja operasional rumah sakit adalah pengurangan karyawan dari tenaga outsourcing," kata Saraswati ketika ditemui RRI diruang kerjanya, Jumat (21/1/2022)

Dikatakan, upaya penyesuaian lainnya adalah mengurangi belanja pemeliharaan peralatan dan mesin termasuk pengadaan barang. 

Dijelaskan, dari anggaran yang dikucurkan senilai Rp 173,2 miliar pada tahun 2021, pihak RSUP Leimena hanya bisa mampu menyerap sebesar 20 persen dari jumlah anggaran tersebut.

"Jadi pada April 2021, Kemenkes mereview anggaran yang diberikan. Dan ternyata, RSUP baru menyerap sebanyak 20 perseb. Hal ini yang kemudian membuat Kemenkes menganggarkan belanja operasional sebesar Rp 20,9 miliar untuk tahun 2022," jelasnya

Ditanya soal apakah ada program-program yang tidak dijalankan di tahun 2021 kemarin, drg Saraswati mengaku, memang ada.  Penyebab program tak terealisasi akibat dari masih tingginya covid-19 di saat itu. Selain itu ada beberapa pengadaan yang belum dilakukan di bulan April 2021. 

"Jadi banyak program yang belum dilakukan di bulan April  karena terkendala covid-19. 

Hanya saja, pihaknya sudah mengupayakan  mengajukan adanya tambahan anggaran sebesar Rp 44 miliar untuk operasional tahun 2022.

"Karena anggaran operational yang berkurang drastis ini akan menyulitkan untuk optimalnya pelayanan Dan kebutuhan rumah sakit," ucapnya 

Nanti, pengajuan permohonan penambahan anggaran sebesar Rp 44 miliar itu akan dibahas lagi di pusat dan apabila dapat disetujui proses revisi dilakukan di Juli atau Agustus 2022.

"Kalaupun di proses revisi, paling terlambat itu dibahas di bulan Juli atau Agustus tahun ini," tukasnya (Rafsanjani)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar