Oknum TNI Tabrakan Nagreg Terancam Hukuman Mati

KBRN, Jakarta: Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa menyebut, penetapan tersangka terhadap tiga oknum TNI AD penabrak sejoli Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dilakukan oleh para penyidik pada Selasa (28/12/2021).

“Jadi, per hari ini penyidik baik dari angkatan darat maupun TNI akan menetapkan mereka sebagai tersangka,” ungkap Panglima TNI usai menggelar pertemuan dengan Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate di Kantor Kemenkominfo, Jakarta Pusat, Selasa (28/12/2021).

Panglima TNI pun menyebut ketiga oknum itu dapat terancam hukuman seumur hidup.

“Tuntutan sudah kita pastikan karena saya terus kumpulkan semua tim penyidik maupun oditur. Kita akan melakukan penuntutan maksimal seumur hidup. Walaupun pasal 340 ini memungkinkan hukuman mati. Tetapi, kita ingin sampai dengan seumur hidup saja,” ujarnya

Menurutnya, ancaman tersebut dilihat dari  motif terencana juga dinilai syarat dalam aksi ketiga oknum TNI itu.

“Ya, terlepas dari motivasi. Ya, tapi kan tadi pasal 340 kan berarti masuk rencananya itu. Itu yang menurut saya udahlah itu tidak bisa toleransi,” tegas Panglima.

Dalam proses penyidikan oknum TNI juga berusaha berbohong, setiap kali dimintai keterangan terkait peristiwa yang terjadi pada Rabu (8/12/2021).

“Oleh karena itu dari tiga ini ya, ini kan kita periksa sejak awal kalau Kolonel P ini kan awal kita periksa setelah kita dapat info dari Polresta Bandung. Kita lakukan pemeriksaan memang di satuannya di Gorontalo. Itu sudah mulai ada usaha-usaha untuk berbohong. Tapi, setelah mulai kita konfirmasi dari dua saksi lainnya ternyata mulai perlahan-lahan. Oleh karena itu untuk memudahkan akan ditarik ke bukan saja ke lokusnya sebetulnya kan ada di Jawa Barat, tetapi ditarik ke Jakarta sehingga dilakukan secara berpusat,” papar Panglima TNI.

“Saat ini kolonel P ada di Tahanan Militer yang tercanggih yang kita sebut smart ya smart Tahanan Militer yang tahun lalu itu kita resmikan. dan kemudian satu anggota Sersan Satu A itu ada di Bogor, yang satu lagi DA itu aja di Cijantung. Jadi, kita pusatkan tapi tidak kita satukan sehingga bisa kita konfirmasi,” tambahnya.

Panglima TNI memastikan proses sidang terhadap ketiga oknum TNI nantinya akan dilakukan secara terbuka.

“Kami nggak ada peradilan yang kemudian tertutup. Jadi, kalau ada rekan-rekan media mau ngawal kami persilakan. Kita pasti buka, enggak ada yang kami tutupi,” pungkasnya.

Perwira TNI AD terlibat dalam kecelakaan yang menewaskan Handi Saputra (16) dan Salsabila (14) yakni Kolonel Infanteri P., Kopral Dua DA, dan Kopral Dua A.

Setelah menabrak dua sejoli itu, oknum perwira TNI itu kemudian membuang jenazah korban ke sungai hingga ditemukan oleh warga.

Kronologi tabrakan terjadi ketika Handi (16) dan Salsabila (14) yang berboncengan sedang melaju keluar jalan raya pada Rabu (8/12/2021). Mobil Isuzu Panther hitam B 300 Q kemudian menabrak dua sejoli tersebut. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar