Tiga PTN Didorong Perbaiki Peringkat World Class University Versi QS

KBRN, Tanjung Benoa : Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) masih menjadikan mutu dan relevansi sebagai pengembangan utama seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Relevansi yang dimaksud meliputi lulusan pendidikan tinggi harus memiliki kompetensi yang memenuhi kebutuhan dunia usaha dan industri.

Direktur Jenderal Kelembagaan, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Kemenristekdikti, Dr.Ir. Patdono Suwignjo mengatakan lima tahun ke depan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta diwajibkan memiliki daya saing secara nasional dan internasional.

"Daya saing internasional ini, selama ini kita ukur dari banyaknya perguruan tinggi yang masuk World Class University versi QS. Sekarang ada tiga perguruan tinggi Indonesia yang masuk 500 besar dunia versi QS, yang nomor satu adalah UI (Universitas Indonesia) yang paling tinggi itu ranking 296, kemudian UGM (Universitas Gadjah Mada) 320, kemudian ITB (Institur Teknologi Bandung) 331," ungkapnya kepada wartawan di sela-sela Workshop & Coaching sekaligus Seminar Nasional dalam rangka Dies Natalis ke-34 Universitas Mercu Buana, di Tanjung Benoa, Kamis (28/11/2019). 

Patdono menyampaikan sesuai RPJM (rencana pembangunan jangka menengah), Kemenristekdikti menargetkan 3 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) memperbaiki ranking World Class University versi QS. Pihaknya berharap, akhir tahun 2024 ketiga PTN itu masuk ke peringkat 200 hingga 250. 

"Di samping tiga perguruan tinggi yang sudah masuk Worl Class University, kita juga mendampingi perguruan tinggi, perguruan tinggi yang selama ini belum masuk World Class University yaitu ranking 500 besar versi QS, misalkan adalah IPB, Unair, ITS, kemudian Undip, Unpad itu juga akan kita dampingi supaya nanti pada akhir tahun 2024 dia bisa masuk ke 500 besar dunia versi QS," ujarnya. 

Kemenristekdikti juga mendorong para lulusan perguruan tinggi memiliki daya saing internasional. Tujuannya agar ketika mencari pekerjaan di luar negeri tidak kalah saing. Langkah yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut yaitu membekali kemampuan sesuai kebutuhan dunia usaha, sekaligus mampu bersaing dengan lulusan luar negeri. 

"Untuk itu, maka lulusan-lulusan dari perguruan tinggi ini selain dia punya ijazah, kita juga dukung kemudian juga kita fasilitasi, supaya lulusan perguruan tinggi ini disamping ijazah, mempunyai sertifikat kompetensi. Kalau ingin mampu bersaing secara internasional, harus mempunyai sertifikat kompetensi internasional," ungkapnya. 

Rektor Universitas Mercu Buana (UMB), Prof. Dr. Ngadino Surip pada kesempatan yang sama mengakui, pihaknya memiliki target untuk perbaikan peringkat. Secara nasional, UMB disebut masuk cluster dua yaitu di peringkat 49 dari 3.300 perguruan tinggi swasta di Indonesia. Target perbaikan peringkat disebut Surip telah ditunjang berbagai program, salah satunya peningkatan akreditasi beberapa program studi. 

"Target kita tahun 2020, kita naik peringkat dari 49 masuk ke peringkat 20 besar. Dan untuk yang cluster yang berbasis penelitian, kita masuk dibawah mandiri, satu strip dibawah mandiri. Kita tahun 2020 masuk di cluster mandiri," katanya. 

"Kemudian juga kita ingin masuk kepada World Class University versi QS kalau nantinya sudah infrastruktur internal kita, termasuk tadi akreditasi internasional prodi, kerjasama luar negeri, termasuk visiting lecturer yang sudah kita lakukan kerjasama, baik dengan Vietnam, Malaysia, Filipina, maupun Singapura. Beberapa dosen kita juga kita adakan visiting lecturer, dan student exchange. Mudah-mudahan untuk perankingan tahun 2020, Insya Allah kita masuk cluster satu," tandasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00