Strategi Komunikasi Pembangunan Pertanian Indonesia

Ilustrasi petani (Foto: Shutterstock.com/FENLIOQ

KBRN, Jakarta: Ditulis oleh Prof. Dr.phil Hermin Indah Wahyuni, M.si Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM.

Kali ini akan mengangkat tema Strategi Komunikasi Pembangunan Pertanian Indonesia. Sebuah tema yang saya angkat bertepatan dengan Hari Tani nasional yang jatuh pada Kamis, 24 September 2020.

Kolega saya Dr Subejo, pengajar senior pada program studi S2 dan S3 Penyuluhan dan Komunikasi pembangunan Sekolah Pasca sarjana UGM mengupdate isu pertanian melalui tulisannya di media nasional bahwa Isu global terkini seperti liberalisasi, privatisasi, demokratisasi, dan desentralisasi sangat menentukan proses kebijakan untuk pembangunan pertanian dan pedesaan. 

Banyak pihak yang meyakini bahwa sektor pertanian dan pedesaan bergeser ke arah yang lebih diversifikasi, komersialisasi dan telah berfokus pada isu keberlanjutan dan efisiensi. 

Ia bahkan menyarankan bahwa Pemerintah pusat harus mempersiapkan strategi yang tepat untuk meningkatkan fasilitasi guna menjamin efisiensi produksi, distribusi dan komersialisasi pertanian. 

Dari pernyataan tersebut tampak bahwa bidang pertanian dan perdesaan membutuhkan dukungan dalam pengembangan sistemnya dalam merespon lingkungan yang paling akhir saat ini.

Strategi komunikasi pembangunan bidang pertanian dapat dikatakan kurang muncul sebagai sebuah wacana publik yang determinan, padahal fakta bahwa Indonesia memiliki potensi sebagai salah satu lumbung padi dunia. 

Fakta bahwa sekitar 40 persen lebih masyarakat kita tinggal di wilayah rural dan ketahanan bidang pangan adalah sektor yang sangat penting bagi keberlanjutan hidup masyarakat sebenarnya telah menunjukkan bahwa sektor ini merupakan sektor penting yang sangat substansial.

Melihat kompleksitas masalahnya, strategi komunikasi pembangunan yang perlu dikembangkan adalah strategi yang secara komprehensif merespon banyak masalah yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya. 

Faktanya, Problem pertanian ternyata juga sangat terkait dengan perubahan iklim (climate change) dan perkembangan industri yang gigantis sehingga memaksa alih lahan yang cepat. 

Lahan pertanian di kawasan Asia terus menyusut dan dalam kasus Indonesia pemilikan lahan petani yang rata-rata hanya 0,2 hektar dan kondisi tanah yang sudah rusak. 

Kondisi ini diperparah dengan aspek permodalan, lemahnya manajemen petani dan minimnya penguasaan teknologi dan inovasi serta penanganan pasca panen. Strategi komunikasi pembangunan bisa dilakukan melalui media-media arus utama yang diharapkan mendorong gerak wacana yang diharapkan akan bergulir pada stream atau penguatan aktor-aktor yang dapat bersinergi untuk pengarusutamaan isu perubahan iklim. 

Alih fungsi lahan juga merupakan persoalan akut yang harus dimonitoring bersama. Dari beberapa studi yang dilakukan mahasiswa mengenai alih fungsi lahan di beberapa wilayah tampak masalahnya sudah akut. Tentu ini membutuhkan kebijakan yang kuat seiring dengan penegakan undang-undang pertanahan nasional atau agraria. 

Butuh kesatuan langkah, visi yang kuat untuk penyelamatan tanah untuk tujuan pertanian dan kedewasaan para stakeholders untuk tunduk pada aturan-aturan yang telah ditetapkan. Dalam kerangka land reform atau reformasi agraria yang secara sederhana dapat kita pahami sebagai distribusi ulang lahan pertanian atas prakarsa atau dukungan pemerintah. Apa kabarnya land reform Indonesia? 

Sejauh mana diskusinya ini nampaknya perlu terus diwacanakan sehingga menjadi kesadaran bersama untuk penegakannya. Strategi komunikasi mengenai aspek permodalan dan manajemen petani tentu saja dapat dilakukan oleh pemerintah melalui departemen terkait dengan berbagai pihak yang potensial untuk memikirkan terobosan yang serius dan sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. 

Melihat kondisi lemahnya manajemen petani dan membuat sektor ini sangat lemah Indonesia perlu mencari solusi paling sesuai saat sektor ini semakin tidak diperhitungkan sebagai sektor yang strategis. Inovasi teknologi dan komunikasi yang sedang booming saat ini perlu diaplikasikan dan dioptimalkan sehingga memberi kemanfaatan optimal pada sektor ini. 

Terobosan-terobosan teknologi di negara agraris lainnya seperti halnya Thailand dapat menjadi model yang dapat dipertimbangkan pelaksanaannya di Indonesia. Mengingat karakter petani Indonesia yang sangat beragam aplikasi teknologi dapat disesuaikan dengan kebutuhannya.

Di tengah kompleksitas problem sangat layak disyukuri bagaimana kementerian pertanian melaporkan bahwa sektor pertanian adalah salah satu sektor yang justru menyumbang pada perekonomian nasional yang berkontraksi akibat pandemic COVID 19. Tahun ini, peringatan Hari Tani Nasional mengangkat tema "Pertanian Andalan Nasional di Tengah Pandemi Covid-19". 

Sebuah tema yang menyadarkan kita bahwa sektor ini tak boleh ditinggalkan walaupun negara ini di satu kakinya sudah menuju pada masyarakat informasi. 

Selamat hari tani nasional dan semoga sinergi nasional dapat direalisasikan menuju pembangunan pertanian yang komprehensif.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00