Kematian Anak Akibat Corona Tinggi, Ini Sebabnya

Foto ABC

KBRN, Jakarta: Sebanyak 3.324 anak Indonesia berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) hingga 18 Mei yang lalu berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Angka tersebut menunjukkan tingkat kematian anak akibat Covid-19 yang paling tinggi di antara negara-negara di Kawasan Asia Tenggara.

Ketua Umum IDAI, dr Aman B Pulungan menyatakan angka kasus dan kematian anak akibat pandemi Covid-19 yang tinggi, menunjukkan lemahnya ketahanan kesehatan anak Indonesia.

"Diare dan pneumonia masih menjadi pembunuh nomor satu dan dua di Indonesia, angka TBC kita nomor dua di dunia, angka stunting kita tinggi, malnutrisi kita tinggi, coverage imunisasi kita rendah," jelas dokter yang menjabat sebagai Presiden Asosiasi Dokter Anak Asia Pasifik ini saat dihubungi awak media, Kamis (4/6/2020). 

Dokter Aman menduga, faktor-faktor ini menjadi penyebab Covid-19 pada anak di Indonesia bisa berakibat fatal.

"Faktor komorbid pada kita bukanlah diabetes atau penyakit lain semacamnya. Jadi kalau kita lihat, komorbidnya kalau pada bayi tentulah bukan penyakit yang aneh-aneh, karena kelompok anak yang paling banyak meninggal itu adalah kelompok umur 29 hari sampai 1 tahun baru kemudian kelompok balita," katanya.

Jumlah kematian anak pasien Covid-19 di Indonesia per 1 Juni 2020 menurut catatan IDAI telah naik menjadi 26 orang. Angka kematian anak yang diduga terkait virus corona juga meningkat, terdapat 160 anak yang dinyatakan meninggal dunia dengan status PDP.

"Temuan ini menunjukkan bahwa angka anak yang sakit dan kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia tinggi membuktikan bahwa tidak benar kelompok usia anak tidak rentan terhadap Covid-19 atau hanya akan menderita sakit ringan saja,” ungkapnya.

Dirinya menyebut, dokter anak selalu mengingatkan jika anak juga rentan terkena virus corona.

"Tidak pernah ada dokter anak yang mengatakan anak tidak rentan atau Covid-19 tidak berakibat fatal pada anak, jadi berarti ada ignorance dan unawareness pada kesehatan anak Indonesia selama ini," jelas dr Aman. 

Di Malaysia, Vietnam, dan Singapura, misalnya, tercatat nol kasus anak yang meninggal dunia akibat Covid-19. 

Secara global, sejumlah penelitian ilmiah dan pemberitaan hanya mencatat dua orang anak di China dan empat orang anak di Amerika Serikat yang meninggal dunia akibat Covid-19.

Tiga dari empat anak yang meninggal di Amerika Serikat, selain terkonfirmasi positif Covid-19, juga mengalami sindrom inflamasi yang meskipun dipercaya berhubungan dengan virus corona, tetapi belum bisa dijelaskan kaitannya secara lebih jelas oleh para dokter.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00