Didi Kempot Meninggal di Hari Asma Sedunia

ANTARAFOTO/Maulana Surya/foc

KBRN, Jakarta : Maestro campursari Didi Kempot meninggal dunia Selasa (5/5/2020). Selain dinyatakan karena diagnosa henti jantung, almarhum Didi Kempot juga memiliki riwayat Asma.

Hal itu diketahui dari Adik kandung  Didi Kempot, Eko Guntur Martinus. Pria yang kerap disapa Eko Gudel ini mengatakan, setiap tampil di atas panggung, almarhum selalu memakai alat bantu pernafasan.

Jika benar almarhum Didi yang memiliki nama asli Dionisius Prasetyo tersebut karena diagnosa Asma, tentu saja kepergian legenda campursari berjuluk Godfather of Broken Heart tersebut bertepatan dengan peringatan hari Asma se dunia.

Tahun ini 'enough asthma death' menjadi tema peringatan hari asma se dunia. Kementerian Kesehatan RI mengajak untuk selalu mencegah kematian asma di masa pandemi Covid-19.

Ajakan itu tentu tidak main-main. Sebab dari data Kemenkes terungkap, angka prevalensi kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) selama 2013-2018 meningkat sampai 34 persen di Indonesia. 

Jenis PTM ada banyak. Sebagai contoh alergi, diabetes, rematik, depresi, hipertensi, stroke, paru-paru basah, dan asma. Dari sekian banyak kasus PTM, yang paling banyak diidap masyarakat adalah asma. Data menunjukkan, 4,5 persen penduduk Indonesia menderita asma. Jumlah kumulatif kasus asma sekitar 11.179.032 penderita.

Diketahui, asma merupakan peradangan kronik saluran pernafasan yang menyebabkan sumbatan dan hiperreaktivasi saluran napas.

Dikutip dari laman instagram Rumah Sakit Universitas Indonesia, asma memiliki ciri yang khusus. Dimana gejala timbul bila ada faktor pencetus. Kemudian terjadi secara berulang dan sering memburuk pada malam hari. Asma mereda dengan pemberian obat atau membaik sendirinya  pada gejala ringan. 

Gejala asma dapat dikendalikan dengan cara menghindari pencetus, rajin kontrol ke dokter, dan menggunakan obat-obat rumahan sesuai anjuran.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00