Pedagang Buah Tangan Haji Yogyakarta Berpuasa Laba

Ilustrasi Oleh-Oleh Haji

KBRN, Yogyakarta: Pemerintah Indonesia telah resmi membatalkan pelaksanaan atau keberangkatan ibadah hai 1441 Hijriah/2020 Masehi lantaran masih dalam Darurat Covid-19. Kebijakan tersebut ternyata memicu pembatalan transaksi pembelian buah tangan atau oleh-oleh haji, yang biasa dijual pada sejumlah toko di wilayah Yogyakarta.

Manajer Toko Luthfi Sajadah di Dongkelan Bantul, Anjar Darundriya Eka Sasmita, mengaku terpaksa harus rela melepas peluang meraih omzet penjualan. Keuntungan atau laba, dirasakan para pedagang di banyak pasar di Yogyakarta tahun ini.

Padahal, toko Lutfi selama ini mempunyai langganan tetap. Baik dari wilayah Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, hingga Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

”Kalau yang sudah memberikan uang muka namun kita kembalikan, jumlahnya mencapai Rp10 juta. Tapi hanya tiga sampai empat pembeli (sekarang, red)," kata Anjar, Rabu (3/6/2020).

Namun toko oleh-oleh yang dikelola Anjar itu, juga menerapkan sistem pembayaran pesanan mendekati hari pengambilan barang.

”Yang lain ada juga yang belum membayar, baru sebatas milih-milih barang dulu saja,” lanjut dia.

Kondisi serupa dialami Wildan Bin Muhammad Bin Umar Bin Ahmad, Al Basyarahil, pemilik Toko Jazirah. Itu juga pusat oleh-oleh umroh dan haji di Kauman, Yogyakarta.

Tetapi, Al Basyarahil memastikan, tidak ada transaksi yang dibatalkan setelah pesanan dibayar. Calon pembeli baru sebatas memilih.

Beragam jenis oleh-oleh baik berupa makanan seperti kurma, kismis, air zam-zam hingga perlengkapan ibadah seperti sajadah. Soal harga jual, kata dia, bervariasi.

Kisarannya mulai Rp15 ribu, tergantung paket oleh-oleh yang akan diambil oleh pembeli yang berminat.

”Kalau orang sudah lihat barang dan sudah mau ambil tapi tidak jadi sekitar 35 persen, karena kebanyakan orang belanja itu dadakan,” ucap dia.

Sedangkan Agus Nasarudin Ahmad, pemilik Toko Nabawi di Suryodiningratan Mantrijeron, betul-betul merasakan sepinya permintaan oleh-oleh haji.

”Yang pesan cuman satu dua orang saja saat ini, tetapi itupun dibatalkan juga, kalau dibilang 90 persen transaksi anjlok ya lebih,” ungkap Agus.

Padahal musim haji tahun sebelumnya, Agus mengaku, satu orang pembeli bisa memesan oleh-oleh hingga 300 box, dan masing-masing seharga Rp25 ribu.

”Sebenarnya tidak rugi karena barang tidak habis (belum diambil, red). Maksudnya, barang dikasihkan, tapi tidak dibayar, kan tidak (sperti itu, red),” kata Agus.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00