Kemauan Mahasiswa untuk Membaca Rendah 

KBRN, Jakarta: Salah seorang dosen di program S2 Magister Teknologi Informasi (MTI) Fakultas Ilmu Komputer UI  Riri Satria mengungkapkan kemauan mahasiswa untuk membaca masih rendah.  

"Saya enggak mau jauh-jauh, saya bicara mahasiswa yang saya bimbing saja kebetulan saya seorang dosen membimbing skripsi dan thesis S2, saya meminta mereka untuk membaca buku, membaca jurnal penelitian mutakhir, ternyata banyak yang tidak melakukan itu,"kata Riri saat berbincang dengan rri.co.id, Minggu (17/5/2020) menanggapi Hari Buku Nasional hari ini. 

Bahkan, lanjutnya kadang-kadang mahasiswanya hanya membaca abstraknya saja atau judulnya saja. "Seolah-olah sudah membaca keseluruhan. Kadang-kadang yang dibaca itu tidak relevan atau kadang-kadang yang dibaca itu sudah ketinggalan,"ujarnya. 

"Jika seandainya dunia kampus seperti itu kampus saja seperti itu prilakunya seperti apa masyarakat awam,"tambahnya. 

Riri melihat saat ini Indonesia mempunyai problem yang besar dengan budaya membaca. Hal ini menjadi sebuah paradoks. Padahal sebagai masyarakat yang mayoritas muslim seharusnya membaca itu bagian dari kehidupan kita. 

"Memang membaca itu tidak susah-susah amat, cuma memang buat orang itu menjemukan dan tidak mudah juga, apalagi menangkap inti bacaan itu, itu pekerjaan sulit tersendiri,"jelasnya. 

Menurutnya apa yang terjadi di masyarakat, kita mengalami suatu masalah dengan membaca memang. "Saya punya banyak sekitar separuh mahasiswa bimbingan saya itu memang punya problem dengan membaca,"tandasnya. 

Selain sebagai dosen, Riri Satria juga aktif di komunitas sastra. Lagi-lagi ketika bersentuhan dengan komunitas sastra, masalah membaca juga menjadi masalah. 

"Saya dekat dengan kawan-kawan di komunitas sastra ternyata mereka mempunyai problem dengan membaca. Jadi membaca ini menjadi suatu problem. Yang jika tidak diatasi maka dia menjadi sesuatu yang membahayakan buat masa depan bangsa ini,"ketusnya. 

Ia pun mempunyai caranya untuk menumbuhkan minat baca. "Pertama, membuat membaca itu menarik dengan mungkin membuat ruang baca menarik, membaca itu menyenangkan. Atau yang kedua dipaksa untuk membaca,"sebutnya. 

Riri menekankan agar membaca harus menjadi gaya hidup atau lifestyle meski hal itu ternyata tidak semudah untuk dilakukan. Sehingga harus ada upaya persuasif untuk membuat membaca menjadi menarik. 

"Membaca itu menarik, membaca itu menyenangkan atau dipaksa untuk membaca, kalau tidak baca maka tidak lulus sidang skripsi sidang thesis dan sebagainya,"terangnya.

"Kalau mau mempertegas lagi ada peribahasa Jika Kamu Seorang Muslim, Maka Membaca Menjadi Gaya Hidup Anda,"pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00