Belenggu Sistem, dan Jiwa Besar Sang Maheswari

KBRN, Jakarta: 'Laskar Pelangi' begitu Andrea Hirata pernah menjuduli sebuah karya novelnya.

Goresan kegalauan ini menjadi diktum, bahwa dunia pendidikan menyimpan berjuta persoalan di dalamnya. 

Hingga kini, persoalan itu begitu sulit terurai. 

Jika di SD Muhammadiyah Gantong lokasi kisah Laskar Pelangi nyaris tidak dapat melanjutkan tahun ajaran karena kekurangan murid, kini banyak murid terhenti sekolah karena tak cukup usia.

Ya, melalui aturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Jakarta 2020, Aristawidya Maheswari pelajar lulusan SMPN 92 Jakarta Timur, dengan berat hati menunda pendidikannya.

Aristawidya yang juga ingin tetap sekolah sebagai tempatnya bertumbuh, juga saling cerita ceria bersama sejawat, namun harus urung dijalankan. Aristawidya nelangsa. 

Meski Aristawidya sosok remaja berprestasi yang dimiliki Indonesia. Tidak berbilang karya sudah tercipta, pun penghargaan ditorehkan. Toh, tidak juga menjadi jaminan pendidikan dapat mulus dari perjalanan hidupnya.

"Untuk sementara tidak sekolah dulu, tahun depan dicoba lagi," kata Ita, biasa Aristawidya disapa saat berbincang dengan rri.co.id di kediamannya, Rusunawa Jatinegara Kaum Blok A Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Meski demikian, Ita tidak gundah gulana, Ita tidak galau berlarut larut. Putri dari pasangan almarhum Trio Nuryamin dan almarhumah Armesita Nugraha Riska ini tetap tegar. Justru dengan cepat memetik hikmahnya.

Ita dapat fokus mencurahkan ilmu seni lukisannya pada anak-anak jalanan. Ita mengajar lukis di sejumlah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

"Waktu mengajar jadi lebih banyak. Semoga bermanfaat," ucapnya.

Aristawidya berkisah, bakat melukis sudah ditekuninya sejak kecil, tepatnya saat masih berseragam taman kanak-kanak. Dinding rumah menjadi media pertama Ita mencurahkan hasrat melukisnya.

"Awalnya itu memang suka corat-coret. Jadi nya pengen diasah aja. Belajar sendiri, juga pernah ikut les gitu," kata Ita yang menyukai melukis bunga ini.

Orang tua yang mendukung lantas selalu membawa Ita di berbagai macam perlombaan. 

Ita yang menonjol selalu menjadi juara. Dari situ Ita dapat bertemu dengan deretan tokoh-tokoh bangsa.

Ita kecil pernah bertemu BJ Habibie, Susilo Bambang Yudhoyono, Anies Baswedan, Jokowi, dan masih banyak lagi lainnya. 

Bahkan Ita sering diajak menginap di rumah para pejabat, lantaran bakatnya tersebut.

"Awalnya kan cuma krayon, lalu pakai cat dengan kanvas. Belakangan saya juga sering melukis dinding, jaket dan kaos," katanya.

BACA JUGA: Si Pecinta Warna, Tak Cicipi Seragam Abu-Abu

Ita mengatakan, menyukai melukis sebab dengan lukisan dirinya dapat mencurahkan rasa. Apakah itu marah, sedih, nelangsa, pupus, galau, gundah, dan pastinya rasa bahagia.

"Melukis bisa mencurahkan perasaan, senang, sedih, bahkan kecewa juga," sebut Ita.

Di rumah Ita sudah seperti galeri pribadinya. Tidak ada lagi dinding tersisa untuk tempat pajangan lukisannya.

Jikapun ada, dinding itu juga sudah bergambar. Termasuk kaca jendela, tidak luput dilukisnya. Mural bertuliskan Maheswari terdapat di dinding kamar.   

Selain karya, lemari pajangan juga tidak mampu menampung ratusan piala dan penghargaan miliknya.

Bahkan ada piala yang tinggi melebihi tinggi tubuh Aristawidya sendiri.

Dengan keadaan sekarang dengan tidak dapat melanjutkan sekolah, Ita tentu akan mencurahkan nya juga lewat coretan warna di atas kanvasnya. 

Menarik menunggu seperti apa hasil lukisan Ita, hasil dari gabungan rasa tak dapat melanjutkan sekolah.

Ita berharap, perasaannya dan teman-teman se-nasib tidak lagi dirasakan generasi adik-adik kelas.

Meski Aistawidya terkungkung aturan, hingga menunda menimba ilmu, remaja berkerudung ini justru berjiwa besar, dengan menuangkan apa itu ilmu.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00