25 Tahun Menabung, Pedagang Tempe Batal Haji

Suwardi menjemur padi hasil panen dari sawah, di halaman rumah.
Keluarga Suwardi membungkus tempe kedelai di salah satu sudut ruangan rumahnya Gemolong Sragen.

KBRN, Sragen: Impian pedagang tempe, Suwardi (63) dan istri Jiyem (64) untuk menunaikan ibadah haji tahun ini kandas setelah Kementrian Agama RI menunda memberangkatkan jemaah ke Tanah Suci akibat Wabah Covid-19.

Suwardi mengaku kabar pembatalan pemberangkatan haji Indonesia yang disampaikan Kemenag Selasa 2 Juni lalu sangatlah mengagetkan, bahkan sempat membuatnya syock. 

Saat ditemui di rumahnya di Dukuh Bakalan, RT 21, Kelurahan Peleman, Kecamatan Gemolong, Sragen, Jawa Tengah, raut muka kecewa tak bisa disbunyikan Suwardi. Tatapannya kosong seolah menyesalkan keputusan pemerintah.

"Ya kecewa. Tapi gimana lagi, ini sudah kebijakan pemerintah dibatalkan," akunya, Sabtu (6/6/2020).

Padahal, selama 25 tahun ini dirinya sudah menyisihkan tabungan hasil dari menjadi perajin tempe yang ditekuni bersama keluarga. 

Suwardi menceritakan, niatannya untuk menunaikan ibadah haji diawali 25 tahun yang lalu. Selama itu dia dan istri mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari berjualan tempe di pasar Gemolong dan bertani. Dia pun mengikuti program penalangan dana haji di salah satu perbankan pada tahun 2011 silam.

“Selama 25 tahun saya bersama istri berjualan tempe di pasar Gemolong. Saya sisihkan dari keuntungan berjualan itu sedikit demi sedikit. Saya ikut program di bank Mandiri ikut dana penalangan haji,” jelasnya.

Niat Suwardi bersama istri  untuk berangkat ibadah haji memang tak semudah yang dibayangkan. Berbagai kendala juga dihadapi dirinya kala itu. 

Mulai dari usaha yang akan bangkrut sampai hampir tidak bisa beroprasi lagi. Namun dengan keuletan dan tekad demi ke Baitullah, usahanya semakin lancar hingga sekarang.

Terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sragen Hanif Hanani menyampaikan, tahun ini hampir 1.200 jamaah haji asal Sragen tertunda keberangkatannya. Dengan demikian setelah banyaknya pendaftar masa tunggu mencapai 24-25 tahun.

"Ya gimana lagi, antrean yang seharusnya ini berangkat tertunda. Daftar antrean sekarang ini ya 24-25 tahun," beber Hanif Hanani.

Suwardi dan istri merupakan 1200 jema'ah haji Bumi Sukowati yang seharusnya tahun ini berangkat bersama 110 rombonganya yang berada di Kecamatan Gemolong. Namun gagal lantaran covid-19. Suwardi sangat berharap tahun depan bisa berangkat menjalankan ibadah haji ke Makkah Al-Mukaramah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00