Nelangsa Perantau Kalimantan Tengah

Ilustrasi larangan mudik.(Dok.Ist)

KBRN, Palangka Raya: “Kalau dibilang sedih, ya sedih. Tapi, ya mau gimana lagi karena situasinya tidak memungkinkan, tetap bersabar dulu sampai wabah ini bisa cepat berakhir.” Itulah yang dikatakan seorang warga Kapuas yang terpaksa tidak bisa berkumpul bersama keluarga pada Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah/2020 Masehi. Andre Faisal bekerja di Palangka Raya, Kalimantan Tengah dan memilih untuk tidak mudik ke Kapuas.

“Sampai saat ini kita belum ada kemana-mana, meskipun jauh dari kampung halaman kita kerja di Palangka Raya. Karena situasi saat ini tidak memungkinkan terpaksa kita tunda dulu untuk mudik kampung. Meskipun dekat kita, pertama ktia menjaga takutnya ketika kita pulang kampung apakah kita membawa virus atau enggak meskipun kita dalam keadaan sehat,” ujar Andre kepada RRI saat ditemui di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (21/05/2020).

Andre memahami bahwa orang yang terinfeksi Covid-19 tidak melulu menunjukkan gejala seperti demam dan batuk. Orang Tanpa Gejala bisa saja menjadi pembawa virus corona dan menularkannya kepada orang lain.

Hal itulah yang Andre hindari. Meskipun kerinduan terhadap istri dan anak yang berada di Kapuas sangat besar, ia menahan diri untuk tetap tinggal di Palangka Raya. Menurutnya, tradisi dan makna Lebaran jelas berkurang karena Pandemi Covid-19.

Namun untuk saling bersilaturahmi dan bermaafan serta tetap membangun komunikasi dengan keluarganya di Kapuas, Andre yang tidak bisa mudik hanya bisa bercakap lewat telepon baik panggilan suara maupun panggilan video.

“Istri di sini. Anak Sebagian kuliah di Makassar. Kami ikuti anjuran pemerintah tidak dibolehkan mudik, kami menurut dari pihak pemerintah kami nggak akan mudik ke kampung halaman."

Mematuhi pemerintah untuk tidak mudik juga dilakoni Agung Suprianto. Jika pada Lebaran tahun-tahun sebelumnya ia habiskan di rumah orang tua di Muara Teweh atau di rumah mertua di Makassar Sulawesi Selatan, namun tahun ini ia mengaku akan tetap tinggal di Palangka Raya.

“Istri di sini. Anak Sebagian kuliah di Makassar. Kami ikuti anjuran pemerintah tidak dibolehkan mudik, kami menurut dari pihak pemerintah kami nggak akan mudik ke kampung halaman,” tuturnya.

Meski tidak bisa menjalani tradisi mudik Lebaran karena mengikuti anjuran pemerintah, namun Agung mengaku tetap bisa bersilaturahmi dengan keluarga dan anak-anaknya melalui panggilan video.

 “Kami bukan nggak bisa mudik. Kami cuma untuk membatasi aja, takutnya kami membawa penyakit ke kampung makanya kami nggak pulang. Terpaksa kami tinggal di Palangka Raya,” ujarnya.

Agung mengatakan tidak mudik adalah bentuk antisipasi terhadap cepatnya penyebaran Covid-19. Karena tidak tahu siapa saja yang kemungkinan sudah terinfeksi, ia tidak ingin keluarganya tertular virus corona.

Agung berharap Pandemi Covid-19 ini segera mereda. Ia menunggu saat itu untuk bisa bertemu orang tua yang berada di Muara Teweh, Barito Utara.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00