Nagari Sikucur Utara, Mutiara Terpendam Puluhan Tahun Tanpa Infrastruktur Jalan

KBRN, Padang : Setapak mengukir jejak langkah anak-anak yang berlarian kecil menyisir kanan – kiri  belantara di sekitarnya. Lembut tapak kaki para bocah seakan berupaya menaklukkan keganasan muka bumi yang bergelombang itu. Jalanan berbatu dengan lubang-lubang besar yang memenuhi permukaan tanah berwarna merah, kala hujan seringkali menuai bencana. 

Jika hujan mengguyur kampung, selalu saja ada warga yang tergelincir, bahkan anak-anak yang meringis menahan sakit dengan seragam sekolah bermandi lumpur merah kecoklatan. Demikian pula orang tua lanjut usia dan ibu-ibu hamil terpaksa harus ditandu, lantaran akses jalan yang dilalui tidak memungkinkan untuk kendaraan.

Begitulah nestapa yang terpampang dari sebuah negeri yang hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Padangpariaman. Nagari Sikucur Utara, demikian warga sekitar menamainya. Nagari yang dulunya ramai penduduk, kini kondisinya kian memprihatinkan. Warga yang tidak betah menghuni kampung, satu per satu memilih pergi meninggalkan tanah kelahiran, mencari kehidupan baru di daerah lain, seperti halnya keluhan warga sekitar, Ramaiti.

"Dulunya kampung ini ramai dihuni warga, namun karena kondisi jalan yang demikian parah, warga  banyak yang pergi merantau. Potensi ekonomi ada, namun biaya yang dikeluarkan untuk mengangkut hasil tani ke luar kampung sangatlah mahal dan tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari,'' ujar ibu tiga anak ini kepada RRI, Sabtu, (25/01/2020). 

Sunyi kian menyelinap, menjadikan suasana desa kian mencekam jika malam tiba. Kampung dengan satu-satunya akses jalan berupa setapak kecil itu kian hilang dilumat kegelapan. Jika tidak karena hal darurat, warga tidak satu pun yang berani keluar rumah pada malam hari. Setapak terjal tanpa fasilitas penerangan yang memadai ini seaktu-waktu bisa menuai petaka yang membahayakan keselamatan warga.

Entah dari mana awalnya, sampai-sampai muncullah pepatah Minang yang agak hiperbolik, untuak sampai ka Nagari Sikucua Utara, tigo kali agaknyo bacakak jo harimau. Dibutuhkan perjuangan yang demikian besar untuk bisa menapaki nagari yang dari segi fasilitas dan sarana prasarana penunjang kehidupan  masih jauh dari harapan.

Demikian pernyataan yang dilontarkan Anggota DPRD Kabupaten Padangpariaman, Amardian. Pemerintah Daerah (Pemda) mestinya tanggap dan merespon cepat kebutuhan masyarakat dalam berbagai hal, tanpa terkecuali infrastruktur jalan. Diantara deretan prestasi gemilang  yang telah diraih Pemda, masih didapati suasana kehidupan masyarakat yang miris dan memprihatinkan.

Keterbelakangan yang dialami masyarakat Nagari Sikucur Utara adalah perwujudan sikap lalai pemerintah daerah merespon kebutuhan dan hak hidup warga yang telah beberapa dekade menunggu sentuhan dan perhatian pemimpin negeri. 

"Ini sentilan bagi pemerintah Kabupaten Padangpariaman untuk lebih peka dan tanggap terhadap hal-hal yang dibutuhkan warga. Tidak mengira saja, dari sekian banyak program yang menunjukkan sisi keberhasilan pemerintah, ternyata masih  ada potret kelam kehidupan warga yang tidak tersentuh pembangunan di daerah," ujarnya lirih.

Akibat kelalaian tersebut, warga hidup apa adanya. Hasil pertanian yang melimpah ruah tidak kunjung bisa diandalkan untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Kalaupun dimanfaatkan, lebih kepada pemenuhan kebutuhan harian keluarga dan warga sekitar. Selebihnya banyak yang dibiarkan membusuk begitu saja dikarenakan biaya transportasi pengangkutan barang yang harus dikeluarkan jauh lebih besar. Ujung-ujungnya hal itu memberatkan petani hingga mereka akhirnya memilih pasrah dan bertahan dengan situasi seadanya. 

Sikucur Utara untuk saat ini dihuni sekitar 91 Kepala Keluarga. Wali Nagari Sikucur Utara, Mayulis Alimah kepada RRI menuturkan, kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama, bahkan puluhan tahun.

Besarnya biaya transportasi pengangkutan hasil tani menyebabkan masyarakat enggan memasarkan produk pertaniannya ke daerah lain. Hal itu berdampak terhadap perekonomian mereka yang sejauh ini sulit berkembang hingga berpotensi memicu tumbuhnya bibit-bibit kemiskinan. 

"Untuk mengangkut satu kilogram hasil tani ke luar kampung, dibutuhkan biaya yang cukup besar, sekitar Rp 150 hingga Rp 200 ribu. Hal itu membebani warga sehingga dengan situasi yang seperti ini, kami merasa pesimis dan seakan tersisih dari yang lainnya," papar Mayulis kepada RRI.

Pada umumnya, masyarakat di Korong Pematang Tinggi, Nagari Sikucur Utara, bermata pencaharian sebagai petani. Mereka bergantung hidup dari penjualan hasil tani, otomatis dengan kondisi jalan yang tidak bisa dilalui kendaraan telah mematikan sumber penghidupan warga yang sebagian besar berharap bisa menyisihkan uang untuk biaya pendidikan anak dari penjualan kelapa dan pinang wangi yang ditanam di ladang atau area pertanian lainnya.

Jika melihat potensi alam sekitar, Nagari Sikucur Utara berada pada bentangan alam yang strategis. Tanah yang subur dan iklim sekitar mendukung perkembangbiakan aneka jenis tanaman sehingga tidak berlebihan jika Nagari Sikucur Utara diibaratkan bagai Mutiara Terpendam. Hal itu diungkapkan tokoh masyarakat Nagari Sikucur Utara,  Nasirman Chan, yang berharap potensi yang ada di daerah dapat segera diberdayakan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat.

Keluhan utama warga adalah infrastruktur jalan yang tidak kunjung dibangun. Dengan dibangunnya jalan, warga mengaku nantinya lebih leluasa memasarkan hasil bumi ke berbagai pelosok negeri. Penjualan hasil bumi itu nantinya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Jika demikian, keluhan warga soal hasil panen yang selama ini membusuk di ladang dapat berakhir.

Tidak hanya pemasaran pinang wangi, pendapatan warga ke depannya bisa lebih ditingkatkan dengan adanya pergerakan sektor ekonomi kerakyatan, contohnya budidaya serei wangi.

"Budidaya ini dapat menambah pendapatan masyarakat. Usaha budidaya ini tidak menuntut perlakuan khusus, tidak memerlukan ketersediaan lahan yang luas, sehingga diyakini pengembangan ekonomi berbasis kerakyatan sepenuhnya dapat mendorong geliat ekonomi masyarakat daerah yang selama ini terpinggirkan,'' ungkap Nasirman Chan.

Mutiara Terpendam perlahan mulai memberikan nilai sumbangsih terhadap daerah sekitar. Warga secara bertahap bisa merasakan dampak pembangunan. Tidak ada lagi rasa pesimis dan tersisih dari yang lainnya karena untuk ke depan warga dituntut mampu berbuat hal terbaik, tidak saja bagi keluarga namun kampung halaman yang puluhan tahun tidak kunjung mendapat sentuhan dan perhatian yang sewajarnya.

Selama puluhan tahun menanti, pada akhirnya harapan dan keinginan warga terjawab sudah. Siapa lagi yang akan membangun kampung halaman, kalau bukan putra-putri daerah itu sendiri, seperti diungkapkan Tosriadi Jamal, putra daerah kelahiran Padangpariaman.

Jalan adalah urat nadi yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Tanpa jalan, mustahil apa pun hasil bumi di daerah bisa dipasarkan. Ia berharap, ke depannya semua pihak bisa saling memotivasi, berpikir positif dan optimis terhadap bermacam program yang bisa dikembangkan dari daerah potensial seperti Nagari Sikucur Utara.

"Target ke depannya adalah melepaskan masyarakat dari kemiskinan dan pengangguran. Amat disayangkan jika negeri yang kaya potensi ini ditinggalkan warganya. Perlu merangkul masyarakat dengan memberikan fasilitas kehidupan yang layak, seperti kebutuhan akan jalan yang dinantikan warga selama beberapa dekade," paparnya kepada RRI  

Menurut Tosriadi, program ekonomi kerakyatan yang segera dikembangkan di Nagari Sikucur Utara, serei wangi, memiliki potensi pasar yang cukup besar, baik di dalam maupun luar negeri. Masih banyak celah dan peluang yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi permintaan pasar dunia yang jumlahnya terus meningkat, salah satunya peluang itu ada di Nagari Sikucur Utara.

Budidaya serei wangi nantinya tidak hanya untuk mendongkrak perekonomian masyarakat, namun diharapkan mampu mengubah wajah nagari menjadi kampung kreatif yang bebas pengangguran.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00