Aiptu Sumerta, di Antara Difabel Dan Sampah Plastik

KBRN, Gianyar : Di desa Siangan, Gianyar, Bali, sepertinya tidak ada yang tidak kenal dengan Aiptu I Kadek Sumerta. Karena Bhabinkamtibmas Polsek Gianyar ini begitu dekat dan sangat aktif membina masyarakat di desa yang menjadi wilayah tugasnya ini.

Hampir setiap hari, setelah apel di kantornya, dia langsung pergi ke Yayasan Bhakti Senang Hati untuk mengajar 15 penyandang disabilitas yang ada di panti itu. Disini, Sumerta mengajar mengenal huruf dan membaca.  “Iya, setiap hari setelah apel pagi, lokasi pertama yang saya sambangi adalah yayasan ini," kata Sumerta saat ditemui di Panti itu, Rabu (11/12/2019).

Tidak mudah baginya untuk mengajar mereka, meski hanya untuk mengenal huruf. "Karena para penyandang disabilitas tersebut ada yang hanya memiliki keterbatasan fisik, tapi ada juga yang punya keterbelakangan mental dan kemampuan berkomunikasi.  Jadi ada yang sudah bisa membaca karena sempat ikut kejar paket, tapi ada juga yang belum mengenal huruf sama sekali,” jelasnya.

"Karena perbedaan kemampuan mereka itu, tentu butuh kesabaran besar untuk bisa. Tapi kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mempedulikan mereka," tambahnya.

Perangi Sampah Dengan Program Gelatik

Terobosan lain yang dilakukan Aiptu I Kadek Sumerta adalah meluncurkan program Gelatik, atau Gerakan Lawan Sampah Plastik. Program ini berangkat dari keprihatinannya akan banyaknya sampah plastik di wilayah desa Siangan.

"Waktu itu saya mendapat keluhan dari para petani, banyak sekali sampah plastik yang berserakan di sawah karena terbawa aliran air. Dari situ saya berpikir bagaimana bisa mengatasi masalah ini," ungkapnya.

Karena dirasa agak sulit bila mengajak orang dewasa untuk memilah sampah plastik, Sumerta pun berpikir untuk melibatkan murid sekolah. "Gerakan ini menyasar anak-anak di tiga sekolah dasar yang ada di Desa Siangan. Setiap hari Sabtu anak-anak diwajibkan membawa sampah plastik untuk dikumpulkan di sekolah,” ungkap pria asal Angantiga, Karangasem tersebut.

Ia mengajak dan menggugah para siswa SD se -Desa Siangan untuk rajin menabung sampah plastik. Bahkan pengumpulan sampah plastik diagendakan setiap hari Sabtu dilanjutkan dengan pemilahan dan dijual langsung ke pengepul. "Uang hasil penjualannya kita berikan ke masing-masing sekolah agar dikelola atau dipergunakan kepentingan siswa," ucap Sumerta.

Meski program Gelatik ini baru berjalan sekitar sebulan, tepatnya mulai September lalu, tapi hasilnya sudah mulai dirasakan masyarakat. "Desa kami menjadi lebih bersih. Selain itu, karena malu anaknya rajin memilah sampah, sekarang para orangtua di desa Siangan sudah mulai peduli dan ikut memilah sampah," ungkap Ketut Berata,  Perbekel (kepala desa) Siangan.

Hasil nyata dari kerja Aiptu I Kadek Sumerta ini pun mendapat apresiasi atasannya. "Saya bersyukur punya anggota yang sangat inspiratif dan karyanya bermanfaat langsung bagi masyarakat. Ini akan jadi motivasi bagi seluruh anggota untuk bisa berbuat lebih di masyarakat, baik dalam memelihara kamtibmas dan kegiatan sosial lainnya," ungkap Kapolsek Gianyar, Kompol Ketut Suastika.

"Program Gelatik ini akan menjadi triger bagi bhabinkamtibmas kita, untuk menjalankan hal serupa. Kita akan kembangkan ke desa lain di kecamatan Gianyar ini, sehingga kita bisa ikut memberi solusi bagi persoalan sampah plastik yang dialami Bali saat ini," pungkas Ketut Suastika.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00