• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Pariwisata

Arahan Bupati Menunda Kegiatan di Luar Sekolah, Pengelola Desa Wisata di Sleman Mengeluh Merugi

26 February
19:34 2020
0 Votes (0)

KBRN, Yogyakarta : Pasca adanya arahan Bupati dalam Rakor bersama seluruh kepala sekolah dan pengawas di Aula Dinas Pendidikan Sleman, Sabtu (22/2/2020) lalu, terkait peristiwa tragis yang terjadi ketika kegiatan susur sungai yang menewaskan sepuluh siswi SMPN 1 Turi, banyak sekolah yang membatalkan order untuk kegiatan kemah di desa wisata yang sebelumnya sudah diagendakan untuk bulan Maret dan April 2020.

Ketua Pengelola Desa Wisata Garongan, Wonokerto Turi Sleman Agus Sugiarto, kepada wartawan di DPRD DIY mengatakan, sekitar 60 persen kegiatan dibatalkan.

Menurutnya, pembatalan itu menyebabkan menurunnya pendapatan desa wisata untuk tiga bulan ke depan, padahal tiap desa wisata menjadi sumber nafkah bagi banyak warga setempat yang dipekerjakan.

"Sekitar 60 persen kegiatan outdoor yang sebenarnya sudah dirancang jauh-jauh hari telah dibatalkan. Itu berakibat pada kosongnya kegiatan di desa wisata di Sleman utara khususnya, termasuk Turi yang lokusnya di kegiatan outdoor banyak sekali. Sekarang warga kehilangan pendapatan," katanya, Rabu (26/2/2020).

Agus menegaskan, sebenarnya kegiatan outdoor di desa wisata Sleman dijamin aman karena pengelola memiliki kompetensi di bidangnya, dan setiap tahun lolos penilaian kelayakan, serta dilengkapi SOP yang jelas dan rinci.

"Pengelolanya itu orang lokal yang kompeten, berpengalaman dan sangat mengenal karakter alam dan lingkungan setempat maupun masyarakatnya. Mereka bisa langsung mengerti kemungkinan ada kejadian yang berpotensi menimbulkan bahaya," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana menyampaikan, peristiwa susur sungai yang menimpa para murid SMPN 1 Turi bukan merupakan kegiatan desa wisata, melainkan kegiatan mandiri oleh pihak sekolah tanpa melibatkan dan tanpa seizin pengelola desa wisata setempat.

Bencana pun terjadi karena kelalaian guru pembina yang tidak punya SOP maupun pemahaman karakter lingkungan dan sistem peringatan dini. Untuk itu, pihaknya Bupati mengkaji ulang arahannya.

"Kami menghargai arahan Bupati Sleman sebagai antisipasi agar peristiwa tragis susur sungai itu tidak terulang. Tapi mohon dibedakan kegiatan outdoor oleh sekolah dan oleh desa wisata. Mohon kebijakan itu segera dievaluasi dan direvisi. Sebab desa wisata yang menjadi andalan ekonomi masyarakat itu dijamin aman, dan selama ini belum pernah ada kecelakaan apa pun dalam kegiatan yang dikelola desa wisata," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata DIY - Singgih Raharja juga mengaku telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan cuaca ekstrem yang dikirimkan kepada pelaku wisata. Keamanan, kenyamanan dan keselamatan wisatawan harus senantiasa menjadi prioritas.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00