• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Pertanian Skala Kecil Dipandang Lebih Efisien Dibanding Pertanian Skala Industri

11 February
20:57 2020

KBRN, Yogyakarta: Model pertanian skala kecil dipandang  lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan  pertanian skala industi besar.  Pertanian skala kecil juga lebih ramah lingkungan dan mampu memberi peluang kerja.

Ben White,  peneliti Initiatives in Critical Agrarian Studies (ICAS)  mengutip pernyataan itu dari buku berjudul Petani dan Seni Bertani karya Jan Douve Van Der Ploeg, guru besar sosiologi pedesaan di Universitas Wageningen Belanda dan China Agricultural University Beijing Tiongkok.

Buku tersebut Selasa petang (11/2/2020) dibahas dalam diskusi di pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM bekerjasama dengan Insist Press. Karena itu,menurut Ben White, pemerintah harus membantu keberadaan petani kecil.

“ Usaha petani kecil sebagai penghasil pangan, sebagai pemberi peluang kerja dan ramah lingkungan. Kedua, bahwa kita dan pemerintah harus mendukung ketahanan usaha petani kecil itu”, tandas Ben White.

“Dukungannya berupa, kepastian atas hak tanah, juga masih banyak peluang untuk melaksanakan berbagai bentuk land reform. Juga mencari jalan agar anak muda yang tertarik untuk bertani disediakan tanah dan alat-alat produksi lainnya”, tambah Ben White.

Menurut Ben White, keuntungan petani kecil atau petani keluarga sangat tergantung dari bagaimana menghitungnya. Umumnya, mereka tidak menghitung tenaga kerja sebagai komponen yang harus dibayar. Sehingga, hasil perhitungan akhirnya membuat petani tidak rugi.

Namun demikian, dalam konteks Indonesia saat ini, petani berada dalam situasi yang kurang menguntungkan. Misalnya biaya inputnya lebih mahal daripada output-nya, dan kepemilikan lahan yang terbatas. Tetapi  terdapat beberapa keuntungan non-material, seperti kemerdekaan  petani melakukan pekerjaannya.

Sementara itu Qomarun Najmi dari Sekolah Tani Muda berpandangan, buku Van Der Ploeg memberikan kesadaran kepada petani kecil di tanah air untuk secara bersama-sama membangun posisi tawar yang lebih kuat.

“ Butuh ada kebersamaan antar petani, atau koperasi tani sebagai penguatan posisi teman-teman petani sehingga posisi mereka menjadi lebih kuat tidak hanya dari segi ekonomi tetapi terutama juga dalam hal politik”, jelas Qomarun Najmi.

Senada dengan pandangan Ben White, Qomarun Najmi menyatakan, ada tradisi petani kecil yang tidak menghitung keuntungan secara ekonomis.

“ Ada hitung-hitungan khas petani, bahwa ketika petani melakukan usaha tani itu adalah dalam rangka mengoptimalkan sumberdaya mereka sambil melihat musim, iklim dan yang lain sehingga mereka bisa mendapatkan hasil yang optimal.Mereka menghitung itu sebagai upah mereka sebagai petani”, tambah Qomarun Najmi.

Qumarun Najmi mengakui, para petani kecil di Indonesia saat ini menghadapi kesulitan untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka jika menerapkan perhitungan dengan tradisi petani tersebut. (mun/joel)

  • Tentang Penulis

    Munarsih Sahana

    Reporter RRI Yogyakarta<br /><br />

  • Tentang Editor

    Yuliyanta

    RRI Yogyakarta<br /><br />

00:00:00 / 00:00:00