• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kesehatan

Pelaku Industri Wisata di Yogyakarta Berharap, Kunjungan Turis Asing Tidak Anjlok

27 January
22:32 2020
2 Votes (5)

KBRN, Yogyakarta : Pelaku industri wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) khawatir, atas isu merebaknya virus corona dari Wuhan China. Mereka takut, terjadi pembatalan rencana kunjungan turis asing ke Kota Gudeg, setelah muncul isu tersebut.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (ASITA) Yogyakarta Udhi Sudiyanto berharap, tidak ada penurunan tingkat kunjungan wisatawan asing, ia pun memastikan Yogyakarta aman dikunjungi.

”Saya khawatir kalau beberapa wisatawan mancanegara berpikir ulang, walaupun sampai hari ini belum terjadi pembatalan rencana kunjungan wisatawan di luar Tiongkok,” katanya saat dihubungi, Senin (27/1/2020).

”Teman-teman (ASITA, red) sampai hari ini sih, hanya sebatas memberikan informasi kepada partner kita di luar, bahwa sampai hari ini Yogyakarta belum berdampak dengan adanya virus corona,” lanjut dia.

Udhi mengakui, kunjungan turis asing terutama dari China cukup bagus dari segi jumlah, sehingga dampaknya memang akan terasa cukup signifikan, jika pemerintah melarang kunjungan wisatawan dari negara tersebut, karena isu virus yang tengah menjadi perhatian dunia.

Sementara, data dari Dinas Pariwisata DIY menyebut, jumlah wisatawan asing dari Negeri Tirai Bambu yang turun di Bandara Internasional Adisucipto, kisarannya hanya tiga persen, dan menempati peringkat enam kunjungan wisman ke Yogyakarta.

”Ya sedikit banyak akan mengurangi jumlah wisatawan yang datang ke Jogja, karena ada dua penerbangan ke Indonesia dari China itu, sementara tidak menuju ke Wuhan maupun mengambil penumpang dari sana, karena penumpangnya tidak ada,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo.

Bandara Adisucipto Tingkatkan Pengawasan dan Pemeriksaan

Pengawasan ketat terhadap penumpang dan crew pesawat yang terbang dari Kuala Lumpur dan Singapura, dilakukan otoritas Bandara Internasional Adisucipto Yogyakarta, merespon munculnya pengidap virus corona di dua negara itu. Keduanya merupakan rute penerbangan internasional, baik dari dan ke bandara tersebut.

Untuk memantau kemungkinan penyebaran virus, PT Angkasa Pura 1 sebagai pengelola Bandara Adisucipto, bekerjasama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang memiliki alat pemindai suhu tubuh.

”Telah tersedia alat body thermal scanner, di terminal kedatangan internasional untuk memantau dan mengawasi penumpang yang mendarat, apabila penumpang menunjukkan suhu tubuh tinggi, akan langsung dikarantina di ruang isolasi,” kata General Manager (GM) Bandara Internasional Adisucipto, Agus Pandu Purnama.

Ia juga mewajibkan seluruh maskapai, memberikan informasi sebelum tiba di bandara, dengan menyerahkan dokumen General Declaration, untuk menilai apakah ada penumpang sakit yang berpotensi menular. Seluruh pemeriksaan dilakukan sesuai standar KKP, sebagai instansi yang menangani pencegahan penyakit, tetapi sampai kini ia memastikan, belum ada satupun penumpang yang terindikasi mengidap virus tersebut.

Ombudsman RI Sampaikan Peringatan Dini

Meski saat ini belum ada data dengan jumlah signifikan mengenai warga negara Indonesia yang terjangkit wabah virus corona, tetapi Ombudsman RI meminta pemerintah membentuk pusat komunikasi krisis, karena cukup tingginya mobilitas manusia dari China ke Indonesia maupun sebaliknya.

”Berdasarkan data statistik, jumlah tenaga kerja asal China di Indonesia mencapai 32.209 jiwa, dengan ciri khas terkonsentrasi pada wilayah proyek maupun perkantoran perusahaan multinasional asal China,” kata Anggota Ombudsman RI Alvin Lie dalam siaran persnya.

Ia juga mengapresiasi upaya screening ketat di pintu-pintu kedatangan bandara yang telah dilakukan otoritas berwenang, tetapi lebih jauh dirinya memandang pentingnya pemerintah menyiapkan komunikasi krisis agar masyarakat mengetahui kemana mereka berhubungan jika wabah meluas.

Kemudian juga mengkaji ulang kesepakatan investasi yang mensyaratkan penggunaan tenaga kerja asing asal China, sekaligus menyiapkan skema mitigasi, untuk mengantisipasi resiko yang mungkin timbul.

”Perlu juga menyiapkan skema perlindungan bagi penduduk Indonesia di China, baik pekerja migran, pelajar dan lainnya, serta segera menyesuaikan standar pelayanan di BPJS agar pasien terjangkit bisa terlayani,” terangnya.

Disamping itu, pemerintah juga perlu melakukan pemutakhiran berkala dan mempublikasikan perkembangan keadaan sesuai tingkat kedaruratan, terutama di area-area rawan, agar bisa memberikan kewaspadaan serta ketenangan bagi masyarakat. (ws/yyw)

  • Tentang Penulis

    Wahyu Suryo

    Reporter RRI Yogyakarta<br /><br />

  • Tentang Editor

    Yahya Widodo

    No description yet...&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00