• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Kasus Antraks Turunkan Konsumsi Daging di Bantul

18 January
15:43 2020
1 Votes (5)

KBRN, Yogyakarta : Ketua Paguyuban Pengusaha Daging Segoroyoso Kabupaten Bantul Ilham Ahmadi, mengeluhkan anjloknya tingkat konsumsi daging sapi, sejak munculnya kasus antraks di Gunungkidul yang menjangkiti hewan ternak.

”Konsumsi daging di masyarakat turun sampai 20 persen, dari rata-rata 40 ekor sapi yang disembelih per hari, menjadi hanya 30 sampai 35 ekor,” kata Ilham saat dihubungi, Sabtu (18/01/2020).

Kondisi itu terjadi sejak seminggu terakhir, karena masyarakat (phobia, red) takut untuk mengkonsumsi daging, apalagi setelah mereka membaca berita tentang antraks di berbagai media massa.

”Sebetulnya masyarakat tidak begitu paham antraks, namun masyarakat tidak perlu khawatir, sapi yang masuk ke rumah pemotongan hewan (RPH) kita, selalu dikontrol kesehatannya oleh pemerintah, ” imbuhnya.

Data terakhir kejadian antraks di Kabupaten Gunungkidul menyebut, terdapat 600 orang suspect (diduga terjangkit, red), kemudian 27 orang dinyatakan positif, serta tiga ekor sapi dan enam ekor kambing mati akibat antraks.

Pemkab Bantul mengambil langkah antisipasi, karena hewan ternak di daerah ini ada juga yang berasal dari Gunungkidul. Namun, pejabat terkait tidak bisa menyebut angka pasti, berapa jumlah Sapi dan Kambing dari wilayah tersebut yang masuk ke Bantul.

”Kejadian antraks di Gunungkidul sejak bulan April 2019, kami sudah antisipasi melalui penyemprotan disinfektan di lokasi Pasar Hewan Imogiri, yang kapasitasnya bisa menampung 600 ekor sapi dan 300 ekor kambing,” kata Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul, Joko Waluyo.

”Penyemprotan biasanya dilakukan pada sore hari, usai aktivitas jual beli ternak di pasar tersebut selesai, kami terjunkan 20 personel untuk memantau kondisi di pasar tersebut,” lanjutnya.

Pengawasan ketat dengan menerjunkan personel Puskeswan, juga dilakukan pada area keluar masuk hewan ternak, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul, seperti Piyungan, Dlingo, Pleret dan Imogiri.

”Kemarin sempat ada kematian ternak di Pleret, tetapi bukan kena antraks namun karena kembung dan terlambat ditangani, hingga kini dipastikan Bantul bebas antraks,” lanjutnya.

Joko juga menyebut, ciri-ciri hewan ternak yang terjangkit antraks karena bakteri, yaitu suhu tinggi hingga 40 derajat, nafas terengah-engah, mati mendadak, keluar darah hitam dari lubang tubuh. Sehingga, kebersihan kandang dan penyemprotan disinfektan perlu dilakukan.

Jika kalangan pengusaha menyebut konsumsi daging di masyarakat anjlok karena antraks, kondisi berbeda dialami pemilik usaha kuliner berbahan daging kambing. Sumarni usia 42 tahun, pemilik warung sate kambing di Jalan Parangtritis mengaku, usahanya yang sudah berjalan 20 tahun tidak terpengaruh isu antraks.

”Kami tidak terima kambing dari luar, dan punya tempat pemotongan sendiri, yang dipotong rata-rata tujuh ekor per hari, kalau pembeli ramai bisa sampai 10 ekor, kami punya pelanggan tetap bahkan yang rumahnya jauh,” ucap dia.

Wisatawan dari Semarang bernama Eli Satiti bersama keluarganya, nampak sangat lahap menyantap sate kambing di warung Ibu Sumarni. Perempuan usia 50 tahun itu tidak khawatir mengkonsumsi daging kambing, di tengah munculnya kasus antraks yang menjangkiti hewan ternak.

"Mereka yang punya warung kan pasti pilih-pilih daging kambing, karena sangat mengutamakan konsumen, kasus antraks hanya dengar saja dari obrolan,” terangnya. (ws/yyw)                                         

  • Tentang Penulis

    Wahyu Suryo

    Reporter RRI Yogyakarta<br /><br />

  • Tentang Editor

    Yahya Widodo

    No description yet...&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00