• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Hukum & Kriminal

LPKA Berikan Hak Anak Pelaku Klithih

17 January
11:48 2020
0 Votes (0)

KBRN, Yogyakarta : Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas II Yogyakarta terus berupaya maksimal dalam membina anak pelaku klithih. Pelaku klithih yang dibina bahkan kini mampu memberikan ceramah Kultum. Bahkan sejumlah anak pelaku klithih saat ini tengah menjalani masa hukumannya di Lembaga Pembinaan Khusus Anak LPKA Klas II, Yogyakarta.

Kepala LPKA Klas II Yogyakarta, Teguh Suroso mengatakan, dari 15 anak yang dibina di LPKA Klas II Yogyakarta karena secara resmi ditahan akibat kasus hukum. Sepuluh diantaranya kasus kejahatan jalanan atau klithih, termasuk di dalamnya kasus pembunuhan dan penganiayaan yang menyebabkan korban jiwa.

Teguh menyebut, selama tinggal di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Yogyakarta, petugas memperlakukan anak-anak pelaku klithih seperti halnya anak sendiri. Mereka mendapatkan haknya sebagai anak-anak.

"Misalnya hiburan televisi, permainan playstation, fasilitas olahraga sepak bola, tenis meja, dan juga hak untuk memperoleh pendidikan," kata Teguh, Jumat (17/1/2020).

Pihaknya memberikan jalur melalui pendidikan kesetaraan di SKB Gunungkidul. Sehingga LPKA meminta rapor terakhir anak dari sekolahnya untuk didaftarkan ke pendidikan kesetaraan.

Cara lain, jika anak pelaku ini sudah jelang lulus maka tetap difasilitasi agar bisa tetap sekolah tanpa harus dikeluarkan. Pihaknya memfasilitasi materi pelajaran dikirim ke LPKA untuk bisa dipelajari anak. Saat ujian nasional, petugas LPKA mengantar ke sekolah agar anak tetap bisa mengikuti.

Menurutnya, Selain difasilitasi berbagai hiburan, mereka juga dilatih mandiri, bertanggungjawab seperti memberikan kuliah tujuh menit (Kultum) bagi yang muslim.

Melalui pembinaan yang dilakukan LPKA, beberapa anak klithih muslim yang sebelumnya tidak bisa membaca Al-Qur’an, kini menjadi faseh. Anak-anak pelaku klithih juga bergiliran menjadi penceramah kuliah tujuh menit (Kultum) di Masjid kompleks LPKA Klas II Yogyakarta.

"Mereka bisa lho mengisi Kultum itu, karena memang kami buat jadwal secara bergantian di Masjid. Beragam buku bacaan serta banyak referensi yang disiapkan, sehingga anak bisa mempersiapkan sebelum mendapatkan jatah mengisi kultum," ungkap Teguh.

Kepala LPKA Klas II Yogyakarta, Teguh Suroso menambahkan bersama UGM, pihaknya melakukan penelitian dan pendampingan terhadap anak pelaku klithih, dimana hasilnya peran utama dalam mencegah klithih kejahatan jalanan oleh para remaja ada pada keluarga.

Banyak anak pelaku klithih mengakui dalam sepekan hanya masuk sekolah Dua hingga Tiga hari. Sisanya mereka berangkat berpamitan saat di rumah namun tidak sampai ke sekolah.

"Beberapa anak pelaku kejahatanan jalanan itu juga sering kesulitan berkomunikasi dengan keluarga, karena orangtua sibuk, kemudian hanya menyiapkan uang saku dan alat transportasi motor. Hal itu lah yang kemudian, membawa anak bergabung dengan kelompoknya yang sangat solid untuk mengarah ke aktivitas tidak jelas dan menjurus ke kejahatan jalanan," paparnya.

Mereka juga mengaku tidak punya alasan ketika melakukan aksinya. Setelah melakukan aksinya, tak jarang dari mereka kemudian bersikap baik, berbakti kepada orangtuanya. (wuri/mrt/yyw).

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00