• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Lingkungan

Waspada Antraks, Pemkab Gunungkidul Keluarkan Larangan Konsumsi Daging Hewan Sakit

13 January
14:27 2020
0 Votes (0)

KBRN, Gunungkidul : Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Yogyakakarta mengeluarkan surat edaran yang melarang mengkonsumsi hewan sakit maupun memperjual belikan hewan yang sudah mati kepada masyarakat.

Hal ini dilakukan menyusul munculnya dugaan bakteri antraks yang menyebabkan 12 warga Desa Gombang, Ponjong, Gunungkidul yang harus mendapatkan perawatan intensf di RSUD Wonosari.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan, dibeberapa wilayah di Gunungkidul khusunya wilayah pedesaan masih sering ditemukan warga yang mengkonsumi hewan ternak yang sakit atau mati dengan cara Brandu.

"Istilah berandu ini sama halnya menjual daging hewan yang mati dan ditawar-tawarkan kepada masyarakat yang menginginkan tentunya dengan harga lebih murah," jelasnya, Senin (13/1/2020).

Untuk mencegah brandu ini kembali dilakukan, Dinas terkait bersikap tegas terlebih suspect antraks saat ini masih mejadi gejolak di tengah masyarakat. Pemkab Gunungkidul mengedarkan surat larangan untuk tidak mengkonsumsi dan menjual hewan ternak yang sakit.

"Kita berharap masyarakat tidak menjual hewan ternak yang mati terlebih mengkonsumsinya," kata Bambang Wisnu.

Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi degan kepolisian untuk melakukan pengawasan. Sikap tegas ini akan diberlakukan utamanya di tempat-tempat penyembelihan hewan atau jagal disejumlah wilayah yang ada di Gunungkidul.

"Dalam pengecekan daging petugas mengakui memang beberapa kali menemukan bangkai hewan ditempat pemotongan hewan, dalam kondisi bangkai daging dimasukan dalam lemari pendingin. ini yang menjadi perhatian kita," paparnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Iriyani mengatakan, dalam waktu dua kali 60 hari pengawasan terhadap 2 Dusun di wilayah lokasi yang diduga endemik antraks akan dilakukan pengawasan.

"Selain membagikan antibiotik kita juga mendirikan posko aduan masyarakat. Posko sebagai tempat pengaduan apapun yang dirasakan masyarakat," kata Dewi. (wib/joel/yyw).   

  • Tentang Penulis

    Wahyu Wibowo

    Kontributor RRI Yogyakarta

  • Tentang Editor

    Yuliyanta

    RRI Yogyakarta<br /><br />

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00