• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Politik

Siapapun yang Ikut Kontestasi Jangan Menyebarkan Kebencian

7 January
13:00 2020
0 Votes (0)

KBRN, Yogyakarta : Zaman sekarang ini ada perkembangan teknologi yang begitu pesat. Salah satu dampak dari terknologi informasi adalah masyarakat menjadi mengkonsumsi konten-konten tanpa batas. Kadang konten-konten yang masuk  sangat tidak edukatif dan cenderung banyak yang hoax.

Demikian dikatakan Aktivis Perempuan Yenny Wahid kepada awak media, di Palace Village di jalan Taraman Lima nomer 1 Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik Kabupatren Sleman, Senin petang, (6/1/2020).

Yenny Wahid berpesan, pertama siapapun yang mau kontestasi  boleh saja, asal jangan pakai hoax maupun fitnah. Kedua, sekarang ini makin kontroversial dan makin laris.

"Kita ingin calon-calon yang ada itu jangan yang model kontroversial, provoktif, menyebarkan kebencian, menjelek-jelekan musuhnya dengan cara negatif. Dampaknya akan memecah belah masyarakat dan dampaknya itu melebihi momen Pilkada. Padahal momen Pilkada selesai, masyarakat belum move on, jadi ini yang kita harapkan agar semua masyarakat menunjukkan kedewasaan," ungkapnya.

Ia berharap semua pihak terutama dari partai mampu menjadi pintu gerbang pertama yang mengusung calon. Sebaiknya partai juga mengingatkan pada calonnya, jangan menggunakan segala macam cara untuk menang.

"Jangan hanya karena ingin menang kontestasi politik jadi merusak, jadi intinya menangnya itu jangan dengan cara merusak. Kita juga ingin partai menunjukkan sikap disiplin," jelasnya.

Lebih lanjut Yenny Wahid mengatakan, perempuan berperan besar dalam membuat penciptaan nilai ditengah masyarakat. Misalnya untuk memadamkan hoax, meredam anaknya untuk tidak ikut konflik-konflik di masyarakat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan jaringan, seperti pengajian dapat memberi kedamaian suasana dan membangun dialog.  

"Pada dasarnya ibu-ibu cenderung lebih mudah akrab dengan orang lain, hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun masyarakat yang lebih rukun dan guyub," katanya.

Ia menambahkan, bahwa kontestasi kekuatan ibu-ibu itu mulai dihitung. Jadi ibu-ibu sendiri harus menggunakan sebagai sebuah momen untuk meminta komitmen dan janji dari para calon agar memberikan kebijakan-kebijakan yang ramah terhadap perempuan.

"Janjinya, ya misalnya bupati yang terpilih diharapkan mampu memberikan dana bantuan untuk PKK. Memberikan penyuluhan tentang gizi, program-program yang memberikan pelatihan untuk ibu-ibu supaya bisa berwirausaha. Jadi ibu-ibu jangan mau menjadi obyek saja, tapi harus tahu juga bahwa dirinya mempunyai kekuatan politik, karena suaranya pun menentukan," pungkas Yenny Wahid. (yon/mrt/yyw).

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00