• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Teri Nasi Dan Cumi Asin Berformalin Masih Ditemukan di DIY

16 December
17:15 2019
1 Votes (5)

KBRN, Yogyakarta : Pemantauan untuk mencegah peredaran pangan mengandung bahan berbahaya di masyarakat melalui pasar tradisional menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru di DIY telah dilaksanakan di 6 titik yaitu di pasar Argosari - Gunungkidul, Piyungan - Bantul, Bendungan - Kulon Progo, Beringharjo - Yogyakarta, Kranggan - Yogyakarta, Pakem - Sleman.

Kepala BBPOM di Yogyakarta, Rustyawati mengatakan, hasil pengawasan sampling dan uji penggunaan bahan berbahaya (formalin, boraks, rhodamin B dan methanyl yellow) terhadap 90 produk pangan, 84 persen memenuhi syarat, dan masih ada 14 produk (16%) tidak memenuhi syarat.

"Dari produk yang tidak memenuhi syarat itu ikan asin jenis teri (43 persen) dan cumi asin (21 persen) mengandung formalin," Rustyawati, Kepala BBPOM di Yogyakarta, usai rakor ketersediaan bahan pangan menyambut natal dan tahun baru di Gedhong Pracimasono, Kepatihan Yogyakarta, Senin (16/12/2019).

Rustyawati menyebut berdasar pengawasan, produk ikan teri nasi dan cumi asin mengandung formalin berasal dari sejumlah daerah di Solo, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

"Dari pedagang di pasar-pasar itu, infonya mereka beli dari Pasar Bringharjo. Seperti kita tahu ya, Bringharjo kan sumber barangnya. Dari Pasar Bringharjo kita ketemu penjual, kita komunikasi, kita bina untuk tidak beli teri nasi yang berformalin. Dan mereka berjanji tidak akan beli yang berformalin. Kan dari pengujian itu, yang dari Solo dan Jatim itu berformalin, sedangkan Pekalongan tidak berformalin. Jadi kami arahkan beli yang tidak berformalin. Kalau tidak yakin, bisa minta kami untuk uji cek lagi," paparanya.

Rustyawati menambahkan berbekal temuan dan penelusuran di Pasar Bringharjo, ditemukan pengepul di berbagai titik yang kemudian juga dilakukan pengecekan.

"Ada 4 sales, dalam jumlah besar, totalnya itu sampai 90 kg, sudah dipanggil dan kemudian bersedia memusnahkannya sendiri di BBPOM Yogyakarta," jelasnya.

Rustyawati mengakui tidak mudah membedakan teri berformalin atau tidak.

"Ciri fisik yang dapat dilihat hanyalah kering, dan tidak lembabnya, sementara kalau dari bau sulit dideteksi, karena kalah sama bau ikannya ya. Jika pedagang ragu dapat meminta bantuan BBPOM untuk melakukan pengujian," jelasnya.

Sementara itu, Sekda DIY, Kadarmanto Baskoro Aji di ruang kerjanya menjelaskan peningkatan kewaspadaan dan sinergitas koordinasi dengan kabupaten dan provinsi lain sangat diperlukan. Karena berdasar pengawasan yang telah dilakukan, banyak ditemukan produk pangan berbahaya berasal dari luar DIY.

"Hal-hal yang perlu diwaspadai adalah masuknya pangan dari daerah lain yang tidak memenuhi
syarat. Karena, produk itu kalau Sleman ya dari Magelang, timur dari Klaten, Kulon Progo barat dari Purworejo, utara dari Magelang, Gunungkidul dari Jatim. Jadi ya saya pesan BBPOM untuk koordinasi dengan kabupaten dan provinsi sekitar, serta BBPOM daerah tetangga," jelasnya.

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY, Tri Saktiyana menyebut temuan produk pangan berbahaya menjelang natal dan tahun baru kali ini menurun sekitar 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Tahun lalu 22 persen tidak memenuhi syarat, sedangkan tahun ini hanya 16 persen. Meski begitu ini tetap memerlukan perhatian kita bersama, harus terus kita turunkan menjadi zero," urainya pada Rapat Koordinasi Kesiapan Menghadapi Natal Tahun Baru di Gedhong Pracimasono Kepatihan Yogyakarta, Senin, (16/12/2019). (wury/ryt) 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00