• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Politik

Radikalisme Agama Tak Sesuai Pancasila

16 November
22:05 2019
3 Votes (3.7)

KBRN, Yogyakarta : Profesor Mukhtasar Syamsudin menyampaikan sikap tegasnya tentang radikalisme, di hadapan ratusan peserta Seminar Nasional bertema Ada Apa Dengan Radikalisme, di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sabtu (16/11/2019).

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Daerah Istimewa Yogyakarta, yang juga Guru Besar Fakultas Filsafat UGM itu, menolak munculnya radikalisme agama di Indonesia, karena tidak sesuai dengan pancasila.

”BPUPKI yang mengenalkan sila ke Tuhanan hingga keadilan sosial, itulah dasar negara Indonesia, tapi saya sangat memahami fakta Indonesia ini, negara ini tidak bisa dibangun dari satu hukum agama tertentu, karena sudah disepakati pancasila,” katanya.

Namun Profesor Mukhtasar prihatin, muncul pandangan keliru di masyarakat, yang menyamakan antara radikalisme dan terorisme dengan Ajaran Islam. Persoalan ini makin diperparah, akibat faktor sejarah di masa lalu.

”Teman-teman kita yang muslim ingin menjalankan agamanya secara fundamental, sesuai firman Tuhan, muslim istiqomah, tapi tolong dalam kita mendiskusikan radikalisme dan terorisme jangan lupa, itu adalah bermotivasi politik dan bercorak ideologis,” terang dia.

”Lalu di dalam sejarah dilihat bahwa memang di Indonesia, pernah ada pergerakan ingin menegakkan Negara Islam Indonesia, kemudian Islam dikaitkan dengan radikalisme dan terorisme,” imbuhnya.

Kekhawatiran munculnya radikalisme, tidak hanya dirasakan Profesor Mukhtasar Syamsudin, tetapi juga para siswa dan guru di Madrasah Aliyah Unggulan Al-Imdad Pajangan Bantul. Belum lama in, mereka membacakan deklarasi anti radikalisme. Terkait radikalisme, beberapa siswa yang mengikuti pembacaan deklarasi, menyampaikan pendapat mereka.

”Intinya (deklarasi, red) untuk mencegah tindakan radikalisme utamanya di madrasah, karena belakangan ini banyak tindakan radikalisme yang lumayan mengancam keutuhan NKRI, Islam itu mengajarkan toleransi, kita harus ada di tengah-tengah,” kata Anggita Bagus Oktaviantoro, pelajar madrasah dari Kalimantan Barat.

”Tadi ikut deklarasi bersama teman-teman yang lainnya, kami semua akan melawan radikalisme sampai kapanpun juga, sederhananya radikalisme adalah tindakan yang identik dengan terorisme,” kata Ahmad Kian Santang, pelajar madrasah dari Sleman.

Lewat deklarasi tersebut, Durori sebagai Kepala Madrasah Al-Imdad, ingin mengantisipasi masuknya paham radikal di madrasahnya.

”Semua buku kaitannya dengan pelajaran, baik itu buku umum maupun buku pelajaran agama, semuanya sebelum diajarkan kepada anak-anak, kita saring dulu di Waka Kurikulum, kemudian nanti dikaji bersama guru, kemudian nanti dilaporkan ke saya untuk menentukan buku itu layak diajarkan atau tidak,” ungkapnya.

Sedangkan Ridwan Habib sebagai pengamat terorisme justru melihat, saat ini muncul penyakit di masyarakat, yang mengaitkan simbol-simbol agama dengan radikalisme, sehingga beresiko memicu rasa permusuhan.

”Stereotype, yang jenggotan pasti radikal, jenggot nggak mesti radikal, yang celana cingkrang itu taliban, KPK taliban, jilbab besar itu anti kebaya, nggak, akhwat berjilbab tetap bisa berkebaya, hari gini gitu lho, kemudian ada penolakan ceramah, penolakan dialog,” paparnya.

Persoalan ini menurut Ridwan, jangan sampai dibiarkan berlarut-larut, perlu pelibatan seluruh elemen masyarakat, untuk bekerjasama mencari solusi kongkrit mengatasi hal tersebut. (ws/yyw)

  • Tentang Penulis

    Wahyu Suryo

    Reporter RRI Yogyakarta<br /><br />

  • Tentang Editor

    Yahya Widodo

    No description yet...&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00