• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

FEATURE

Nafas Terakhir Djaduk di Pangkuan Petra

13 November
20:00 2019
1 Votes (5)

KBRN, Yogyakarta : Aktor Teater yang dijuluki Raja Monolog, Butet Kartaredjasa tak kuasa menahan tangis kesedihan mengenang sosok Djaduk Ferianto, adik kandungnya yang sudah pergi selama-lamanya, menghadap Sang Pencipta di usia 55 tahun.

Serangan jantung pada Rabu (13/11/2019) dini hari, menyebabkan pendiri Kua Etnika dan Orkes Keroncong Sinten Remen itu, menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Petra, istri tercintanya. Kelima anaknya pun, merelakan kepergian ayah mereka, termasuk Butet yang memiliki kesan mendalam, terhadap sosok almarhum.

”Dia memang dikenal pekerja keras, penuh disiplin, menyiapkan segala sesuatunya secara perfeksionis, sehingga saya bisa memahami dari setiap persiapan-persiapan yang dilakukan, itu menyedot energi, menyedot konsentrasi yang berlebih dari dosisnya, dan itulah Djaduk,” ucapnya.

Sebagai seniman multitalenta, Djaduk Ferianto menaruh perhatian besar pada musik, salah satunya musik Jazz. RRI berkesempatan mewawancarai almarhum seputar musik tersebut, saat berlangsung event Syuhada Jazz pada Oktober lalu.

”Yang penting bukan materi jazz-nya, tetapi bagaimana kegiatan berkeseniannya itu menjadi menarik, sekarang yang dipilih adalah jazz, menarik sekali karena situasi Indonesia mutakhir sekarang ini, mungkin tinggal kesenian yang bisa agak sedikit meredam dengan persoalan-persoalan situasi di Indonesia mutakhir, saya kira usaha ini jangan berhenti tahun ini saja, mudah-mudahan tahun depan lebih ramai dari tahun ini,” terang dia.

Ketertarikan Djaduk pada musik jazz, mendorongnya untuk menginisiasi sebuah acara tahunan bernama Ngayogjazz, yang dimulai sejak tahun 2007.

Rencananya pada pertengahan November ini, acara musik tersebut akan kembali digelar, di Dusun Kwagon, Desa Sidorejo, Kecamatan Godean Kabupaten Sleman. Namun, meninggalnya Djaduk, menjadi kabar duka bagi Aji Wartono, salah satu panitia penyelenggara Ngayogjazz.

”Mas Djaduk sebelumnya juga ke Kwagon, ke lokasi gitu, dan kita ngobrol-ngobrol karena setelah ke lokasi banyak ide-ide Mas Djaduk juga yang kemudian kita bicarakan, kita tidak menduga tidak ada tanda-tanda apa-apa, kita ngobrol sampai sekitar setengah 12 malam, kemudian Mas Djaduk pamit kelihatan capek, Ngayogjazz sabtu besok kita tetap melaksanakan,” katanya.

Misa pemberkatan pada Rabu (13/11) mulai jam 14.00 WIB hingga 15.30 WIB ditujukan untuk mendoakan almarhum. Sebuah peti berisi jenazah almarhum Djaduk Ferianto, berada di tengah pendopo, kompleks Padepokan Seni Bagongkusudiharjo, Tamantirto Kasihan Bantul.

Susilo Nugroho, aktor kawakan Teater Gandrik, nampak diantara kerumunan pelayat. Ia bercerita, jika bulan Desember mendatang, Teater Gandrik akan pentas di Surabaya, Djaduk ikut terlibat sebagai sutradara.Namun, sosok almarhum yang berkesan di mata Susilo, justru meninggal sebelum pentas berlangsung.

”Jadi naskah belum sama sekali saya revisi, padahal harusnya kita latihan, belum kepikiran, awal dia ikut di Gandrik itu mengesankan, jadi tradisi atau kebiasaan bermainnya beda to, dulu di Gandrik itu ada kebiasaan pemain juga pemusik, meskipun saya tidak mengerti musik, saya salah satu korbannya itu sering dipukul di punggung, karena keliru mukulnya,” terangnya.

Mendekati jam 16.00 WIB, terdengar raungan sirine mobil ambulan, saat membawa jenazah Djaduk Ferianto ke peristirahatan terakhirnya, di pemakaman keluarga Sembungan, Kasihan Bantul. Selamat jalan Djaduk, kreatifitasmu dalam berkarya, akan selalu terpatri di sanubari kami. (ws/yyw)        

  • Tentang Penulis

    Wahyu Suryo

    Reporter RRI Yogyakarta<br /><br />

  • Tentang Editor

    Yahya Widodo

    No description yet...&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00