• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Pariwisata

Konser Orkestra Yang Istimewa ditengah Hamparan Hutan Pinus

10 November
17:31 2019
0 Votes (0)

KBRN, Kulon Progo : Konser orkestra bertajuk Musik Biru yang diselenggarakan oleh Badan Otorita Borobudur bersama dengan Blue Economy Foundation dengan dimainkan di obyek Wisata DeLoano Glamping, Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Sabtu (9/11/2019), mengambil konsep berbeda dengan konser orkestra pada umumnya karena mengambil tempat terbuka.

Direktur Utama Badan Otorita Borobudur, Indah Juanita, mengatakan, pihaknya mendukung penuh kegiatan positif yang dilakukan berbagai unsur masyarakat, seperti dari Blue Economy Foundation. Yayasan ini, fokus dalam memperhatikan lingkungan, yaitu bagaimana caranya berkegiatan tidak ada sampah. 

"Jadi yayasan ini mengadakan kegiatan di De'Loano Glamping sekaligus dengan bersih-bersih hutan," terang Indah Juanita sebelum Konser sabtu (9/11/2019). 

Dia menambahkan, untuk menarik perhatian masyarakat, maka Addie MS dihadirkan dalam konser biru tersebut. Dia didaulat menjadi Konduktor orkestra dengan musik yang dimainkan oleh siswa-siswi Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta. Sebelum tampil menurutnya, Addie MS melatih siswa siswi tersebut selama tiga hari.

"Dipilihnya Addie MS bukan tanpa alasan. Dia juga memperhatikan isu-isu lingkungan, sehingga Addie MS diundang di acara konser ini," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur, Agus Rochiyardi menuturkan, Konser Musik Biru tersebut menjadi ajang pelestarian lingkungan dan juga untuk mendorong kemajuan UMKM di sekitar lokasi DeLoano Glamping. Karenya, sejumlah UMKM dihadirkan dalam acara tersebut. 

"Merek diundang dalam rangka meningkatkan lokal wisdom dan menjadi bagian khas dari De'Loano. Hal khas itulah yang membuat lebih menarik untuk dikunjungi," ujarnya.

Sedangkan Konduktor Addie Muljadi Sumaatmadja atau lebih dikenal dengan Addie MS, disela sela konsernya menyatakan senang bisa tampil di konser musik biru ini, karena memiliki masa SMP yang berhubungan dengan alam yaitu suka berkemah. 

"Konser disini bisa juga jadi detoks, karena di Jakarta itu polusinya sungguh luar biasa,"terangnya. 

Addie MS Menjelaskan, dalam kolaborasinya dengan Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta tersebut, dia menyajikan sejumlah lagu-lagu Nusantara, seperti Tanah Airku, Bengawan Solo, hingga lagu-lagu daerah seperti Yamko Rambe Yamko, Rasa Sayange hingga Ayam Den Lapeh. 

"Dipilihnya lagu-lagu ini, karena kita itu memiliki budaya yang sangat banyak dan beragam,"ujarnya.

Addie menambahkan, musik klasik itu penting sebagai media pendidikan anak. Musik klasik khususnya dalam bentuk orkestra bisa mengajarkan pada anak-anak mengenai bagaimana kerjasama tim, kepekaan dan rasa toleransi. 

"Instrumen musik klasik berbeda-beda jenisnya sehingga bunyi yang dihasilkan juga tidak sama. Perbedaan ini justru menjadi sebuah keindahan berupa harmonisasi suara,"ujarnya.

Perbedaan yang kemudian menghasilkan harmonisasi suara ini bisa diibaratkan sebagai bentuk persatuan. Sama halnya seperti Indonesia yang disatukan oleh perbedaan suku, agama dan budaya.

"Dari perbedaan yang ada di Oskestra, kita bisa belajar tentang toleransi. Pemusik tidak boleh egois, dan harus mengedepankan kebersamaan demi harmonisasi,"kata Addie MS.

Sementara itu, selain bisa mendengarkan konser musik berkelas, pengunjung yang hadir juga diperlihatkan karya seni visual dengan bahan daur ulang, yang dibuat Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. 

Karya tersebut antara lain dibuat oleh Lutse Lambert Daniel Morin. Dia membuat instalasi berbentuk laba-laba yang diberi nama Red Spider Nest, dengan bahan dari barang bekas. Selain itu ada juga seni rupa karya Bintang Tanatimu yang berna Mimigar : Kisah Pemantik Belia.

Menanggapi instalasi seni ini, Chariperson Blue Economy Foundation, Dewi Smaragdina, mengatakan, kehadiran seni instalasi dari bahan-bahan bekas tersebut dalam rangka melestarikan lingkungan. Masyarakat yang umumnya langsung membuang sampah, diberikan gambaran bahwa sampah yang awalnya tidak punya nilai, bisa dimanfaatkan kembali, bahkan bernilai ekonomi jika diberdayakan dengan baik.

"Dengan diolah dan kreatifitas, maka akan bisa membuat produk memiliki nilai lebih,"tuturnya.(hrn/ryt) 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00