• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Pariwisata

Ini Arti Penting Storynomics

22 October
18:49 2019
2 Votes (5)

KBRN, Yogyakarta : Kepala Bidang Destinasi Wisata, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Aria Nugrahadi mendorong para pelaku wisata agar menerapkan storynomics, yaitu pendekatan komunikasi pariwisata, yang menonjolkan narasi, konten kreatif, serta kekuatan budaya.

Pendekatan ini dilirik, karena diyakini cukup efektif memacu pengembangan sektor pariwisata, sehingga tidak berhenti pada pemenuhan target kunjungan, yang tahun ini diklaim sudah mencapai diatas lima juta wisatawan.

Aria memandang, kawasan wisata Malioboro sebagai bagian dari sumbu imajiner di Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki kekuatan storynomics jika dikemas dengan narasi yang kreatif dan menarik.

”Yang tadinya mungkin wisatawan hanya menikmati Malioboro itu duduk, foto selfie, mereka ketika dikenalkan bahwa malioboro itu bagian dari sumbu filosofi dan bagian dari bagaimana semestinya manusia itu hidup berkembang dari kecil sampai dengan nanti dewasa dan meninggal, dia tidak hanya punya pengalaman visual saja, itu akan mereka ceritakan ketika mereka sampai di daerah asalnya, itu yang kita harapkan sebagai salah satu kekuatan DIY ke depan,” kata dia.

Pada tahap awal, penerapan storynomics akan dimulai dari kawasan wisata, di jalur sumbu filosofis, seperti Panggung Krapyak, Malioboro, Keraton Yogyakarta dan Tugu Pal Putih. Ia menargetkan, narasinya selesai akhir tahun ini, agar bisa segera diujicoba melalui pemandu wisata yang sudah terlatih.

”Yang utama adalah karena itu struktur kota jogja adalah sumbu filosofi, yaitu dari panggung krapyak, malioboro, keraton, tugu itu yang harus kita awali, kemudian pengembangannya ada kotagede, kedaton pleret, keraton kerto hingga imogiri yang selanjutnya yang bisa kita elaborasi adalah wanawisata budaya mataram, karena ada legenda bagian dari proses pencarian makam raja-raja ada di Mangunan,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Tim Pengembangan Ekonomi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Probo Sukesi justru melihat perlunya pembenahan di sektor pariwisata, akibat masih tingginya kredit bermasalah di kalangan UMKM yang bergerak di bisnis pariwisata.

”Jadi memang kalai dilihat dari kredit pembiayaan dari perbankan untuk pariwisata ini di bawah rata-rata, karena NPL-nya kredit pariwisata itu juga di atas rata-rata jadi 4,01 persen ya, sementara NPL kredit umum itu hanya 2,79 persen, ini perlu kita benahi kenapa kok pariwisata kita sendiri juga seperti itu kondisinya”ucapnya.

Jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, Probo pesimis Daerah Istimewa Yogyakarta bisa mewujudkan target satu juta kunjungan wisatawan mancanegara pada tahun depan, saat ini saja, tingkat kunjungan wisatawan asing masih belum mencapai angka 800 ribu orang. (ws/yyw)

  • Tentang Penulis

    Wahyu Suryo

    Reporter RRI Yogyakarta<br /><br />

  • Tentang Editor

    Yahya Widodo

    No description yet...&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00