• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Pangkas Mata Rantai Tengkulak, Petani Bisa Merasakan Keuntungan

11 October
11:01 2019
1 Votes (5)

KBRN, Yogyakarta : Rendahnya harga jual di tingkat petani, akibat panjangnya mata rantai pengolahan hingga distribusi gabah yang dilakukan tengkulak untuk mengambil keuntungan.

Modal yang tidak dimiliki serta teknologi dan pengetahuan, mengakibatkan petani tidak cukup memiliki kekuatan untuk menguasai rantai distribusi gabah, sehingga harga jual gabah di tingkat petani rendah, sedangkan harga jual ketika menjadi beras di masyarakat harganya tinggi.

Mata rantai distribusi gabah dari petani hingga ke konsumen atau masyarakat setidaknya terdapat lima tahapan mulai dari penebas, tengkulak, juragan, distributor dan warung, untuk kemudian sampai kepada konsumen, di mana setiap mata rantai, tentu akan mengambil keuntungan masing-masing. Jika setiap mata rantai mengambil keuntungan 10-20 persen, maka harga di tingkat konsumen akan melonjak 50-100 persen ditambah dengan ongkos produksi atau biaya operasional.

Kondisi ini salah satunya dirasakan bertahun-tahun oleh para petani di Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sebagai daerah lumbung pangan, masyarakat di desa ini mayoritas bekerja sebagai petani, baik petani padi, sayuran maupun hortikultura. Para petani di Desa Argomulyo, seyogyanya ingin mengolah hasil panen sendiri serta menjualnya kepada masyarakat secara langsung, namun terkendala dengan peralatan, teknologi dan juga modal usaha. Karena itu, dengan terpaksa semua diserahkan kepada tengkulak.

Hasil panen langsung dijual di sawah, bahkan beberapa petani ada yang menjual padi dalam kondisi masih hijau atau dikenal dengan istilah ijon.

Melalui program Jaminan Pangan Masyarakat (JAPANGMAS) yang diinisiasi Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Rewulu, PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) IV mendorong para petani Desa Argomulyo di Rumah Produksi Benih Padi dan Kelompok Tani Boga Lestari yang sudah dimulai sejak 10 Mei 2018 menjadi Desa Agribisnis Mandiri.

Operation Head Terminal BBM Rewulu, Rahmad Febriadi mengatakan, Pertamina mengucurkan dana Rp 800 juta-Rp 900 juta setiap tahun, untuk menyukseskan Desa Agribisnis Mandiri

"Program ini dijalankan dengan kolaborasi antara TBBM Rewulu, Joglo Tani dan kelompok tani Desa Argomulyo," katanya, Jumat (11/10/2019).

Menurutnya, bantuan dana yang merupakan salah satu program CSR PT Pertamina tersebut antara lain digunakan untuk pembangunan dan perluasan tempat penjemuran gabah, pembelian mesin giling padi, pengemasan beras hingga distribusi beras ke masyarakat.
 
"Dengan pengelolaan dan pendistribusian gabah secara mandiri oleh petani, seluruh keuntungan dari proses pengolahan dan distribusi yang sebelumnya diraup tengkulak dan juragan, kini sepenuhnya dinikmati petani," tambahnya.

Rahmad menjelaskan, para petani dapat menikmati harga gabah sesuai harga pasar bahkan lebih tinggi 10 persen, karena mata rantai distribusi dari para tengkulak yang menekan harga gabah serendah mungkin ketika panen raya dapat dipotong petani.

"Harga jual beras, karena terpotongnya mata rantai tengkulak, juga menjadi lebih murah hingga 13 persen,” tegasnya.

Desa Agribisnis Mandiri merupakan salah satu proyek percontohan TBBM Rewulu yang disinergikan dengan program CSR lainnya yakni program mandiri benih, program pengembangan kebun bibit tanaman sayur dan hortikultura serta program pembuatan pupuk organik bagi kelompok tani dan masyarakat.

Program ini terus disinergikan dan dilaksanakan secara berkelanjutan serta akan terus dikembangkan di desa lain yang menjadi sentra produksi pertanian. Hal ini sebagai upaya Pertamina meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama yang berada di wilayah operasi.

TBBM Rewulu merupakan salah satu dari tujuh TBBM yang berada di wilayah Pertamina MOR IV. TBBM Rewulu yang didirikan pada tahun 1973 ini memiliki 25 tangki BBM dan melayani sebanyak 175 SPBU di wilayah Provinsi Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah.

TBBM Rewulu juga telah menerapkan penerangan alami dengan sistem solar cell-hybrid sehingga tercipta efisiensi energi  10,84 GJ per tahun dan  reduksi emisi sebesar 2.796 kg C02 equivalen per tahun.

"Salah satu poin tertinggi dalam mencapai Proper emas adalah pemberdayaan masyarakat dan keanekaragaman hayati. Untuk itu Pertamina akan selalu memperhatikan keberlangsungan program CSR untuk dapat sustain dan tujuan akhir yaitu mensejahterakan masyarakat bisa tercapai," pungkasnya. (ian/mrt/yyw).

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00