• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

FEATURE

Menelusuri Sejarah Bernuansa Digital di Museum TNI AD Dharma Wiratama

4 October
17:04 2019
0 Votes (0)

KBRN, Yogyakarta : Beragam cara menikmati Yogyakarta, tak hanya dengan pemandangan alam ataupun kulinernya. Kini, masyarakat dapat menikmati kota pelajar dengan tambahan wawasan sejarah, salah satunya ialah dengan berkunjung ke museum TNI AD Dharma Wiratama.

Museum yang berlokasi di Jalan Jenderal  Sudirman 75 Kota Yogyakarta ini memiliki beragam koleksi, salah satu yang unik ialah weapon box.

M Daldiri Dwi Purnomo selaku Kepala Bagian museum mengungkapkan, koleksi itu menjadi salah satu yang membuat pengunjung tertarik, karena tergolong langka dan hanya ada tiga di dunia.

Weapon box ini adalah koleksi yang hanya ada tiga di dunia yang punya, termasuk di Indonesia. Selain itu ada juga di Jerman dan Kanada. Terdiri dari 745 senjata, yang merupakan visualisasi dari para pejuang yang dulu menggunakannya untuk melawan penjajah,” ucapnya, Jumat (4/10/2019).

Dahulu museum ini merupakan markas besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan cikal bakal TNI.Di tempat ini juga diselenggarakan Konferensi TKR pada 12 November 1945 yang menunjuk Panglima Besar Jenderal Sudirman sebagai pimpinan tertinggi Angkatan Perang pada saat itu dengan didamping Kepala Staf Letjen Urip Sumoharjo.

Selain menjadi markas besar TKR, museum ini juga menjadi Markas Korem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro dan saksi sejarah peristiwa G 30S/PKI.

Karena memiliki nilai sejarah yang tinggi, museum yang buka mulai pukul 08:00 – 15:00 itu dilestarikan hingga saat ini,” imbuhnya.

Menurut Daldiri Dwi Purnomo, mulai tahun 2017, museum ini telah didigitalisasi sehingga para pengunjung lebih mudah mendapatkan berbagai informasi melalui sajian visual dengan digital box. Tentu hal ini membuat pengunjung semakin ramai setiap harinya.

Sementara itu, Istiana, salah seorang pengunjung berharap museum ini bisa dikunjungi bukan hanya oleh masyarakat sekitaran Jogja, akan tetapi bisa masyarakat internasional, sehingga museum ini bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas.

“Suatu saat turis-turis dapat berkunjung ke sini,” ungkap, Istiana.

Berbagai upaya juga telah dilakukan oleh pihak museum untuk mendekatkan diri dengan masyarakat, salah satunya ialah dengan adanya kegiatan OjoLaliSarapan yang merupakan kegiatan makan pagi bersama masyarakat setiap Jumat pagi. (dimas/edi/yyw).

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00