• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

FEATURE

Waspada dan Siaga, Saat Tak Ada Bencana

21 September
20:57 2019
1 Votes (5)

KBRN, Yogyakarta : Di dalam sebuah tenda, raungan tangis seorang pria tak terbendung, sembari memanggil keluarganya, namun, saat itu tak ada respon sama sekali. Ia terlihat dipeluk petugas berbaju oranye, yang mencoba menenangkannya.

Beberapa saat sebelumnya, lapisan bumi bergetar hebat, memporak-porandakan Desa Guwosari, Pajangan, Kabupaten Bantul, yang menyebabkan lelaki itu kehilangan keluarganya.

Guncangan gempa, juga mengharuskan ratusan warga lainnya, mengungsi di sebuah tanah lapang, tak jauh dari kantor balai desa setempat. Di sana, sejumlah tenda berukuran besar tampak berdiri kokoh, untuk ditempati pengungsi.

Mobil ambulan juga terlihat lalu-lalang di jalan sekitar desa, sembari membunyikan sirine yang suaranya terdengar cukup keras. Di dalamnya, petugas medis membawa korban luka-luka akibat gempa ke rumah sakit, untuk mendapat perawatan.

Di sekitar tenda evakuasi, sejumlah relawan mengoperasikan perangkat radio komunikasi. Saat itu juga, berbagai laporan disampaikan, baik tentang kondisi kerusakan bangunan akibat gempa, termasuk para korban luka dan meninggal, yang butuh penanganan secepatnya.

Itulah situasi simulasi bencana gempa bumi, pada Sabtu (21/9/2019) yang menandai Launching Desa Guwosari Pajangan, sebagai Desa Tangguh Bencana, seperti disampaikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul Dwi Daryanto.

”Kalau Bantul Insya Allah 75 desa akan kita jadikan desa tangguh bencana, dari Pak Bupati memerintahkan kita, semua desa tangguh bencana itu ada proses pengembangan, akan kita latih lagi supaya lebih mantap lagi,” ucapnya.

Bagi warga Desa Guwosari seperti Ibu Marjanah dan Pak Ngadiran, kegiatan simulasi bencana ini sangat bermanfaat bagi mereka.

”Ini penting, jadinya lebih tahu kalau ada apa-apa sudah persiapan sudah tahu, jika ada gempa menyelamatkan diri, lari dari rumah cari perlindungan,” kata Marjanah.

”Acaranya bagus sekali ya, ini bener-bener mendidik kita, supaya kita berfikiran selalu siaga, sehingga jika ada bencana bisa ditanggulangi secepat mungkin,” ungkap Ngadiran.

Kepala Desa Guwosari Masduki Rahmat menyebut, jika wilayahnya termasuk lokasi berpenduduk padat, sehingga pemerintah desa memiliki tanggung jawab kepada warga, untuk memberikan sosialisasi tentang mitigasi bencana.

”Ini menyiapkan masyarakat agar nanti siap jika sewaktu-waktu terjadi bencana, ini tidak hanya tanggungjawab pemerintah saja, tetapi masyarakat juga harus ikut andil dalam menyiapkan diri menghadapi bencana yang terjadi,” terang dia.

Launching Desa Guwosari Pajangan sebagai Desa Tangguh Bencana, disaksikan langsung Bupati Bantul Suharsono. Sebagai kepala daerah ia berharap, kegiatan ini bisa meningkatkan kewaspadaan warga terhadap potensi bencana.

”Nanti kalau terjadi musibah kayak dulu (gempa 2006,red) biar tidak kaget, walau kita nggak minta ada musibah, tapi kita kan harus waspada dan siaga,” harapnya.

Sebagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang sebelah selatan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, Kabupaten Bantul memiliki beragam potensi bencana, tidak hanya gempa bumi, tetapi juga tsunami, tanah longsor, kekeringan, hingga terjangan angin kencang.

Menyikapi situasi ini, Pemerintah Kabupaten Bantul menargetkan, 75 desa yang ada sudah berstatus sebagai desa tangguh bencana di tahun 2023 mendatang. (ws/yyw) 

  • Tentang Penulis

    Wahyu Suryo

    Reporter RRI Yogyakarta<br /><br />

  • Tentang Editor

    Yahya Widodo

    No description yet...&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00