• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sosial

Sambut Hangat Warga Papua di Jogja

9 September
19:12 2019
1 Votes (5)

KBRN, Yogyakarta : Gugus Tugas Papua (GTP) UGM menyambut hangat kedatangan warga Papua di Jogja, khususnya dari Gereja Eklesia, Kabupaten Ilaga, yang ingin belajar tentang kehidupan di luar Papua.

Kegiatan ramah tamah ini berlangsung di kediaman Ketua GTP UGM Drs. Bambang Purwoko, M.A, daerah Condongsari, Sleman dihadiri teman-teman dari Kabupaten Mappi, Papua, Putra presiden Indonesia ke-4 yang juga aktivis, Yenny Wahid, dan Menteri Sekretaris Negara RI, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc.

Menteri Sekretaris Negara RI, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc, dalam sambutan khusus kepada teman-teman Papua menceritakan, tentang pengalaman sekolahnya serta perjalanan kariernya, dimana dirinya berasal dari kampung yang tidak maju dan listrik belum masuk hingga menggantungkan biaya kuliah melalui beasiswa.

“Saya tinggal di kampung yang tidak maju. Listrik belum ada, bisa pakai sepatu saja baru umur 13 tahun. Waktu kuliah biaya tergantung sama beasiswa,” ungkap Pratikno dikutip dari kagama.co, Senin (9/9/2019).

Menurutnya, melalui perjalanan karier yang tidak terduga, serta berbagai perjuangan yang menempa itu, dirinya dapat menempuh pendidikan tinggi hingga menjadi seorang profesor, menjadi Dekan FISIPOL, serta terpilih menjadi Rektor, kemudian menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara sejak 2014 hingga sekarang.

“Keterbatasan adalah guru paling sempurna. Jangan melihat keterbatasan sebagai hambatan. Kita bisa menang bersaing dan survive karena terbiasa dengan kesulitan,” ungkapnya.

Sementara itu, Putra Presiden Indonesia ke-4 yang juga aktivis, Yenny Wahid menegaskan, semua orang jangan takut untuk bermimpi. Ia juga menghimbau kepada teman-teman Papua yang menempuh pendidikan untuk selalu bertekat kuat untuk meraih mimpi-mimpinya.

“Saya dulu nangis tidak diterima di ITB. Tapi beberapa tahun kemudian bisa diterima di Harvard University. Jadi jangan takut bermimpi. Bermimpi itu gratis,” jelasnya.

Yenny mengungkapkan, dengan semangat teman-teman dari Papua yang rela datang jauh untuk belajar terutama di Yogyakarta ini merupakan suatu kelebihan yang tidak semua orang dapat melakukan.

Yenni mengajak, seluruh anak milenial untuk dapat mencerna informasi serta berhati-hati setiap menerima informasi terutama informasi dari sumber-sumber yang tidak jelas.

"Berita bisa dibuat dengan berbagai macam, terutama berita yang sifatnya provokatif sehingga memancing emosi. Judul dibuat sengaja untuk memancing agar dibuka, jika diklik nantinya bisa meningkatkan pendapatan. Si pembuat berita tidak peduli berita tersebut bisa berimbas pada banyak hal," tambahnya.

Sementara, pendeta Gereja Eklesia Linda Upase mengajak, sebagai tujuan belajar dan berwisata, Yogyakarta bermanfaat untuk menjalin silaturahmi dan menjaga persaudaraan.

“Untuk anak-anak muda jangan sia-siakan kesempatan yang Tuhan beri pada kita. Apalagi kita belajar di sini, banyak orang memberikan kasih dan kepeduliannya kepada kita. Jangan kecewakan. Sebagai tanda terima kasih buktikan bahwa kalian bisa sukses dan bermanfaat untuk orang lain,”pungkasnya. (ril/ian/yul/yyw).

  • Tentang Penulis

    Dyan

    Reporter RRI Yogyakarta

  • Tentang Editor

    Yuliyanta

    RRI Yogyakarta<br /><br />

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00