• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

FEATURE

Kafe Gumregah, Didik Napi Jadi Barista

16 August
00:50 2019
1 Votes (5)

KBRN, Yogyakarta : Di belakang meja dalam ruangan seluas 5x3 meter persegi, Taufik usia 22 tahun nampak menyeduh kopi hitam. Ia memakai baju warna biru kombinasi kuning, saat membuatkan pesanan untuk pengunjung kafe.

Bubuk kopi Arabica Karo bertekstur agak kasar, yang telah digiling menggunakan Grinder, ia masukkan ke dalam kertas filter, pada alat seduh manual berbentuk kerucut bernama V60.

Lalu dengan memutar perlahan, tangan kanannya menuangkan air mendidih bersuhu 90 derajat celcius di atas bubuk kopi, menggunakan kettle berleher panjang mirip leher angsa, sebagai tempat keluarnya air yang dituangkan.

Cairan warna hitam perlahan mengucur ke dalam gelas takar, setelah dirasa cukup, hasil saringan kopi langsung dituang ke dalam gelas lain, untuk disajikan kepada pengunjung. Bagi Taufik, meracik kopi yang nikmat di lidah tak semudah membalik telapak tangan, semuanya butuh proses.

”Awal belajar sulit, pertama bikin kopi rasanya pahit ya campur-campur, sering latihan saja nanti ketemu rasa yang pas,” kata Taufiq saat ditemui RRI awal Juli lalu.

Kafe tempatnya bekerja bernama Kafe Gumregah, lokasinya di halaman parkir Rutan Pajangan Bantul. Sebagai narapidana kriminal umum yang divonis satu tahun lima bulan penjara, ia belajar meracik kopi mulai bulan Maret 2019, lewat pelatihan di dalam rutan oleh Komunitas Kerabat Kopi.

”Ini buat pengalaman saja, kalau keluar bisa pengen bikin usaha sendiri, biasanya kalau ada narapidana yang bebas dan pernah jadi barista dikasih uang saku, hasil keuntungan bekerja” ucap Taufik, yang saat bekerja dibantu temannya sesama barista penghuni rutan.

Ide membuat Kafe Gumregah ini, merupakan inisiatif Soleh Joko Sutopo selaku Kepala Rutan Pajangan Bantul. Lelaki usia 37 tahun yang hobi minum kopi ini, memang ingin melatih para narapidana, agar mereka punya bekal hidup saat kembali ke lingkungan masyarakat.

”Saat ini, kedai kopi untuk nongkrong anak muda sangat marak di Yogyakarta, saya pikir warga binaan perlu juga diberi keterampilan barista, awalnya karena saya sering ngumpul dengan teman dan ngopi di kafe, apa yang bagus di kafe saya tiru untuk desain Kafe Gumregah,” ucapnya.

Sejak menjabat kepala rutan mulai bulan Oktober 2017, ia ingin mewujudkan pelayanan dalam zona integritas bebas korupsi, dengan merancang konsep layanan terpadu, dilengkapi kafe tempat ngopi dan pondok asimilasi.

Hingga di bulan Oktober 2018, Kafe Gumregah dilaunching bersama layanan terpadu, dengan biaya terjangkau. Bangunannya memanfaatkan tempat parkir kendaraan di sisi timur, tidak jauh dari pintu masuk rutan.

”Kita kerjasama dengan Komunitas Kerabat Kopi untuk suplay kopinya, nggak bagi hasil, saya menyisihkan penghasilan saya, lima jutaan ada, untuk beli Grinder dan alat seduh kopi, kalau mebeler kafe karya warga binaan,” ucap dia.

Terkait usaha kafe dalam rutan ini, Soleh tidak mematok keuntungan yang terlalu besar, karena para pelanggannya rata-rata pengunjung yang akan membesuk narapidana, karena semuanya murni pembinaan untuk penghuni rutan.

Muhammad Muis dari Kerabat Kopi menceritakan keterlibatan komunitasnya, sehingga terwujudlah Kafe Gumregah, yang lokasinya berada di dalam kompleks Rutan Pajangan Bantul. Awalnya dimulai saat ada event ngopi dalam rutan, setahun sebelum kafe terbentuk.

”Kebetulan Pak Soleh ada gagasan membuka kedai, lalu kami memberi edukasi cara penggunaan alat seduh, membedakan kopi arabica dan robusta, serta cara komunikasi dengan pengunjung,” terang dia. (ws/yyw)

  • Tentang Penulis

    Wahyu Suryo

    Reporter RRI Yogyakarta<br /><br />

  • Tentang Editor

    Yahya Widodo

    No description yet...&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00