• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

FEATURE

Refleksi 74 Tahun Kemerdekaan RI

15 August
21:09 2019
0 Votes (0)

KBRN, Yogyakarta : 17 Agustus ’45 rakyat dan bangsa Indonesia meemproklamirkan kemerdekaannya. Tonggak sejarah terpancang di bumi pertiwi. Pekik merdeka menggema hingga pelosok negeri. Suka cita dan puji syukur terpanjatkan tak henti kehadirat Tuhan yang Maha Esa.

Senyum kegembiraan tersungging di antara wajah anak-anak bangsa yang tertindas, di antara tanah-tanah yang penuh bersimbah darah, di antara air yang keruh oleh keringat pahlawan, dan di antara tulang belulang pejuang yang garang meradang.

Kabar kemerdekaan bergelora di antara langit yang menawarkan panorama, di antara dedaunan yang menorehkan persatuan dan di antara kicau burung yang menyampaikian salam perdamaian ‘Selamat Pagi Indonesia’

Laksana bayi yang baru lahir, Indonesia sangat rapuh oleh berbagai ancaman, rawan oleh beragam gangguan, perjalanan pemerintahan republic Indonesia mengalami banyak cobaan. Pemberontakan DI TII, Kahar Muzakar, RMS, Permesta dan Partai Komunis Indonesia yang terus menebar terror, hingga mengakibatkan korban ribuan rakyat Indonesia mati sia-sia.

Selain dari bangsa sendiri, rongrongan terhadap pemerintah yang syah juga datang dari Belanda yang tak rela Indonesia Merdeka. Belanda ingion kembali menancapkan kuku kolonialismenya di bumi Indonesia, terus menghembuskan kembali politik adu domba.

Meski sepanjang perjalanannya Indonesia terus digoyang berbagai  gangguan, ancaman dan cobaan yang datang silih berganti. Namun berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, negeri ini selamat melewati ujian berat. Kini bangsa ini menikmati kebebasannya. Laksana Sang Garuda, terbang bebas di cakrawala nan luas.

Kemerdekaan yang direbut dengan segenap kebhinnekaan, kemerdekaan yang diraih dengan tetesan darah dan taruhan nyawa para syuhada.  Akankah kita hanya bertopang dagu menikmati kemerdekaan ini, atau hanya sekedar trenyuh menyaksikan nasib para pejuang yang tersisa. Tengoklah Sang Veteran Sukimun yang masih tegar berjuang sendiri, meski ia tuli bahkan nyaris bisu.

“Dibed, dibed….- Bedil, bedil,”,….. (ilustrasi) senapan penjajah itu telah merobek perutku, aku menjerit kesakitan, aku menangis sesenggukan, aku rela menanggung beban derita hingga sisa usia. Ya Tuhanku apa yang sebanarnya masih kau inginkan dariku yang renta tak berguna ini. Sudah cukup bagiku mengawal republic ini. Hita- putih negeriku ku serahkan kepadaMu. Anak cucuku lah yang akan meneruskan perjuanganku.

Sukimun, hanyalah sebuah potret sosok veteran yang rela menanggung beban hidup berat. Jerih payah para pendiri republic semestinya kita cermati, kita teruskan perjuangan dan pengorbanan mereka, demi kejayaan bangsa. Bukan dengan angkat senjata melawan penjajah. perjuangan kini melawan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan. Inilah yang harusnya kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan. Dengan kerja dan karya nyata, adalah bukti terimakasih kita terhadap pengabdian dan jasa-jasa para pendahulu. Seperti Bung Karno menyerukan, isilah kemerdekaan ini, dengan karya-karya nyata.

(cuplikan suara Bung Karno……)

Dengan dilandasi semangat kebhinnekaan, dan Pancasila sebagain Dasar Negara serta Undang-undang Dasar 1945 sebagai payung sebuah Negara berdaulat. Para pendiri republic ini bertekad mewujudkan sebuah Negara bermartabat, maju, makmur sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Marilah kita bersatu padu, menyingsingkan lengan baju, bersama membangun kejayaan tanah air tercinta   Indonesia

‘Jangan bertanya kepada negaranmu apa yang telah diberikan negaramu kepadamu, tetapi bertanyalah kepada dirimu apa yang telah kamu berikan kepada negaramu…….’ (yyw).

  • Tentang Penulis

    Yahya Widodo

    No description yet...<br /><br />

  • Tentang Editor

    Yahya Widodo

    No description yet...<br /><br />

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00