• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kesehatan

Pencegahan Stunting Harus Dilakukan Sedini Mungkin

2 July
21:04 2019
0 Votes (0)

KBRN, Klaten : Gerakan Generasi Bersih dan Sehat (Genbest) yang merupakan inisiasi Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo dimaksudkan untuk menciptakan generasi Indonesia yang bersih dan sehat serta bebas stunting (kerdil,-red).

Melalui gerakan Genbest, masyarakat khususnya generasi muda, diharapkan mampu menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian dikatakan Kepala Sub Direktorat Informasi dan Komunikasi Sosial Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Sarjono usai acara Forum Sosialisasi Genbest di sebuah hotel di Klaten, Selasa (2/7/2019).

Menurutnya, pencegahan anak stunting harus dilakukan sedini mungkin, bahkan sejak calon ibu masih remaja. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif masyarakat untuk mengubah perilaku dan menerapkan gaya hidup bersih dan sehat di lingkungannya, agar melahirkan generasi mendatang yang terbebas dari masalah stunting.

Kominfo terus berkomitmen bahwa penyediaan informasi terkait isu stunting ini harus mudah diakses dan dipahami masyarakat. Salah satunya melalui Forum GenBest ini,” kata Sarjono.

Lebih lanjut Sarjono  mengatakan, secara definisi stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama pada periode seribu hari pertama kehidupan HPK, yaitu sejak janin hingga anak berusia 24 bulan. 

Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, menurutnya, menaruh perhatian terhadap prevalensi stunting dan telah berhasil menurunkan persentasenya dari 37,2% Riskedas, 2013 menjadi 30,8% Riskedas 2018. Meski persentasenya turun signifikan angka tersebut masih tergolong tinggi karena tiga dari 10 balita di Indonesia masih mengalami stunting.

“Kabupaten Klaten merupakan salah satu dari 60 kabupaten/kota prioritas stunting pada 2019 yang mencakup 10 desa prioritas di antaranya Desa Sanggrahan, Randusari, Keprabon, Ngaren, Tibayan dan desa lainnya,” pungkas Sarjono.

Di sisi lain, Ketua DPC Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Klaten, Nurhayati mengatakan, presentasi stunting di Klaten 7,1 %. 

“Meskipun rendah tidak akan menghentikan upaya untuk terus melakukan intervensi pada kasus stunting. Penyebabnya tidak hanya asupan gisi saja tetapi juga kondisi lainnya seperti ketersediyaan pangan, sanitasi, politik dan kukum,” kata Nurhayati.

Sementara itu, Forum Sosialisasi Genbest tersebut diikuti sekitar 300 peserta meliputi, mahasiswa, pelajar, kepala desa, tokoh agama dan tokoh masyarakat. (yon/yyw).

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00