• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

FEATURE

Erwin Yuniati, Potret Ibu Rumah Tangga dan Wanita Karir yang Sukses

18 February
15:34 2019
1 Votes (5)

KBRN, Yogyakarta : Latar belakang pendidikan, tak musti menentukan keberhasilan dan kesuksesan seseorang dalam menjalani kehidupannya. Antara harapan dan kenyataan kadang berbanding terbalik, tetapi hanya tekad kuat disertai kerja-keras dan doa, akan membuahkan keberhasilan.        

Erwin Yuniati usia 44 tahun dari Trimulyo, Jetis, Kabupaten Bantul, DIY sudah membuktikan hal itu. Lewat kerja keras dan ketekunan belajar, wanita bergelar sarjana hukum yang sempat menjadi pengacara ini, banting setir menjadi seorang pengusaha batik yang sukses.

”Di keluarga saya tidak ada basic wirausaha, saya kuliah di fakultas hukum, setelah lulus sempat jadi lawyer sekitar 4 tahun, tetapi suami kurang berkenan saya jadi lawyer, alasannya agar bisa fokus mengurus anak-anak,” ucap Ketua IWAPI Bantul ini di Yogyakarta, Senin (18/2/2019).

Setelah melepaskan profesi pengacara yang sempat digelutinya, ia mulai mencoba berwirausaha sembari mengurus anak yang masih kecil-kecil di rumah. Awalnya ia mencoba usaha pembuatan kue, tetapi tidak  berjalan sukses dan akhirnya gulung tikar karena tidak berkembang dengan baik.

Pada tahun 2009, ia memutuskan belajar membatik di Desa Wisata Batik Giriloyo Imogiri Bantul. Dari sinilah titik balik nasibnya dimulai, selama kurun waktu setahun, Erwin betul-betul mengasah kemampuannya untuk belajar membuat batik dari para perajin disana.

”Karena perempuan tidak jauh dari fashion, akhirnya saya coba merintis usaha batik, awalnya saya belajar dulu, tentang motif, pakem, hingga proses pembuatannya, saya makin senang belajar membatik,” lanjutnya.

Setelah menguasai seluk-beluk membatik, istri dari Masrukhan Budiyanto seorang PNS di P4TK Seni Budaya Yogyakarta ini, mengembangkan batik kontemporer hasil inovasinya sendiri mulai tahun 2010. Hal itu dilatarbelakangi, mahalnya harga kain batik yang dibuat sesuai pakem.

”Proses pembuatan batik sesuai pakem itu mahal, biayanya tidak bisa untuk operasional usaha keseharian, sehingga saya berkreasi membuat fashion motif batik yang ekslusif tetapi harganya terjangkau, bisa untuk dipakai harian,” ucap dia.

Batik kontemporer karyanya tidak terpaku pada aturan pakem yang sudah ada, namun justru dari situlah produktivitasnya terus berkembang. Setiap hari, Erwin mampu berkreasi membuat 10 fashion batik kontemporer dengan motif abstrak, yang diberi label Bahana Batik dan sangat diminati masyarakat.

”Pemasarannya sudah sampai ke Batam, Makassar, Kupang, Jakarta, Surabaya, Semarang, Jambi, Lampung, Aceh, Kalimantan, Jepang dan Jeddah Arab Saudi, dalam sebulan bisa membuat fashion lebih dari 500, rata-rata pesanan seragam dari instansi pemerintah,” terangnya.

Harga jual batik kontemporer, mulai kisaran Rp 75 ribu hingga jutaan rupiah, baik dalam bentuk batik cap maupun batik tulis. Yang paling mahal motif batik di atas kain sutera ukuran tiga meter, harganya bisa lebih dari satu juta rupiah.

Saat melakukan produksi, ia dibantu para karyawan untuk membuat batik maupun untuk menjahit. Bahkan, dirinya juga membina 100 orang ibu-ibu di desanya, hingga mereka mahir membatik dan mandiri dalam berusaha.

”Awalnya mereka (ibu-ibu,-red) tidak bisa membatik dan sekarang bisa membatik, saya beri modal ilmu yang saya bisa dan alat batik, Alhamdulilah mereka bisa mandiri dan saya ajak ikut pameran juga,” tuturnya.

Meski inovasinya sangat berharga, tetapi ia tidak pernah berfikir untuk mengurus hak paten. Jika nanti karyanya ditiru orang lain, hal tersebut tidak menjadi soal baginya, karena baginya, jika suatu karya memang bagus dan berkualitas, sangat layak untuk ditiru.

”Dari pada saya takut karya dijiplak orang, lebih baik saya mikir membuat karya yang baru setiap hari, saya selalu melihat sisi positifnya, tetapi kalau untuk merk Bahana Batik sudah saya patenkan,” imbuhnya.

Meski berprofesi sebaga wanita karir dengan kegiatan harian yang cukup padat, Erwin tidak melupakan perhatiannya kepada keluarga, baik kepada suami maupun anak-anaknya. Buah hatinya masing-masing bernama Bahana Raisahan Putra, siswa kelas tiga di SMPN 5 Yogyakarta, dan Gema Aisahan Putri, siswi kelas tiga di SD Muhammadiyah Nitikan.

Untuk bisa menjalin kebersamaan dan keakraban dengan keluarga saat berada di rumah, sebisa mungkin ia tidak memegang handphone, agar bisa mencurahkan perhatiannya untuk mendampingi kedua buah hatinya.

”Anak saya sekolah dari pagi sampai sore, suami juga bekerja dari pagi sampai sore, saat di rumah saya sebagai ibu, suami sebagai imam, dan anak-anak sebagai anak, setelah semua kewajiban saya sebagai ibu selesai, saya baru cek kerjaan lagi lewat hape,” tuturnya.

Dalam membimbing anak-anaknya, Erwin selalu menekankan pemahaman, agar mereka tidak terpaku pada hasil, tetapi yang lebih penting mereka harus rajin belajar, dan menghargai proses untuk mencapai hasil maksimal.

”Untuk jadi orang pintar harus lewat proses, kalau saya mendesain motif batik anak saya melihat dan menirukan, saya tidak melarang karena ini tidak diajarkan di sekolah, anak saya yang kelas tiga SD lebih lihai pegang mesin jahit, sekedar dia tahu namun bukan mempekerjakan mereka,” pungkasnya. (ws/yyw). 

  • Tentang Penulis

    Wahyu Suryo

    Reporter RRI Yogyakarta<br /><br />

  • Tentang Editor

    Yahya Widodo

    No description yet...&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;br /&amp;amp;gt;

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00