• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

FEATURE

‘Pedengar, Aku Mohon Maaf’

16 November
01:55 2018
0 Votes (0)

KBRN, Yogyakarta : ...”pendengar! aku mohon maaf..., suaraku rada-rada serak”... Begitulah barangkali sepenggal plesetan dari syair lagu dangdut terkenal di era tahun ’90-an milik Cucu Cahyati berjudul ‘Penonton’.

Plesetan ini hanyalah sebuah ilustrasi betapa suara penyiar RRI Jogja yang merdu mendayu menghilang dari pendengaran khalayak yang seakan tak berbekas hanya gara-gara listrik padam, pada Kamis (15/11/2018) malam. 

Lalu bagaimana dengan gensetnya?. Jawabnya sudah dicoba untuk diatasi oleh segenap krew teknik dan para awak radio yang lain untuk menghidupkan jenset, ternyata nihil tak ada hasil.

Kepala Bidang Teknik Media Baru (TMB) RRI Yogyakarta, Drs. Ruli Hadi yang meluncur ke Studio di Kotabaru dengan membawa accu (aki) besar untuk menghidupkan jenset, ternyata hanya bisa ‘bertepuk sebelah tangan’.

Jalur alternatif lainpun ditempuh oleh segenap pejabat RRI dengan cara menghubungi pihak berwenang dalam hal ini PT PLN Area Yogyakarta melalui ponsel maupun WA, namun hasilnya hanya 'telor' alias kosong bin tak ada respon. 

Padamnya listrik PLN dan tidak berfungsinya jenset, praktis mengakibatkan macetnya siaran RRI, baik di Programa 1, Programa 4, bahkan Programa 2, hingga membuat ‘gerah’ jajaran ‘punggawa’ atau para petinggi RRI Jogja, mulai dari pucuk pimpinan yakni Drs. Salman, Kabag TU, para Kepala Bidang hingga para Kepala Seksi.  

Betapa tidak, dengan adanya kasus itu maka praktis siaran terputus total alias tidak mengudara, dengan durasi yang cukup lama yakni lebih dari 3 jam, dimulai pukul 19 kurang 5 menit sampaikan dengan pukul 22.10 wib.

“Baru kali ini jenset macet,” keluh Kabid TMB, Ruli Hadi dengan nafas ‘ngos-ngosan’.

Atas peristiwa tersebut, segenap jajaran pimpinan RRI Yogyakarta yang diwakili oleh Kabid TMB, Ruly Hadi, meminta maaf kepada seluruh pendengar setia RRI di manapun berada maupun kepada para pengisi siaran di studio Kotabaru dan Gejayan.

Harapannya ke depan kasus seperti ini tidak terulang lagi, sehingga semboyan ‘Sekali di Udara Tetap di Udara’  tidak menjadi  ‘Bumerang’  yang diplesetkan, hanya gara-gara listrik padam. (yyw).

  • Tentang Penulis

    Yahya Widodo

    No description yet...<br /><br />

  • Tentang Editor

    Yahya Widodo

    No description yet...<br /><br />

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00