• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

FEATURE

Hidupku Demi ‘Hidup’ Anakku

24 July
01:05 2018
1 Votes (5)

KBRN, Yogyakarta : Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati setiap tanggal 23 Juli, seakan berlalu begitu saja tanpa banyak kita sadari, walau ada pula yang menyadarinya dengan memberikan hak-hak khusus bagi anak-anak.

Meski tak mengenal apa itu Hari Anak Nasional, namun bagi Yulianti; ‘Anakku adalah Hidupku, dan Hidupku adalah Demi Hidup Anakku’.

Barangkali itulah prinsip yang terlintas dalam benak Yulianti, seorang ibu muda yang terpaksa harus membawa anak putrinya menyusuri jalan-jalan desa demi ‘hidup’ anak-anaknya.    

Sungguh, suatu perjuangan yang luar biasa dari seorang ibu yang mencoba mencari nafkah dan  mengais rizky dengan membawa serta anak putrinya Latifah (3) tahun dengan menggunakan kereta bayi, sambil memungut sampah yang ia temui di sepanjang perajalanan.

‘’Apa itu Bu?,” tanyaku. “Botol plastik,” jawabnya. “Untuk apa,” tanyaku lagi. “Ya untuk dijual, Pak,” sahutnya.

Setelah kami berbincang sejenak di pinggiran jalan Desa Brajan, Kalurahan Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ternyata ibu yang mengalami cacat pada kaki kirinya ini sedang berjuang mengumpulkan dan mencari sampah apa saja yang selanjutnya ia jual, demi uang receh untuk menghidupi dua anaknya.

Di bawah terik sinar matahari yang membakar tubuhnya hingga legam, Yuli, panggilan akrabnya, sepanjang hari selalu mengais rejeki demi sesuap nasi. Itulah perjuangan hidup yang besar dari seorang ibu, demi ‘hidup’ anaknya.

Lalu ke mana sang bapak alias sang suami? Dengan menyeka peluh keringat di wajahnya yang terurai rambut yang tak tertata, Yuli sedikit berkisah tentang nasibnya, sambil sesekali membetulkan roda kereta bayi yang tak berputar sempurna itu.

“Suami saya mengurusi selingkuhannya,” cerita Yuli dengan tertunduk malu, kepada RRI, Senin (23/7/2918).

Sementara anak putrinya yang duduk di atas kereta bayi yang sudah butut itu hanya menatapku diam. Hanya terlintas ekspresi sedih di wajah mungilnya yang kelam.  

Tak terlintas wajah ceria di dahinya, tak terlihat aksesoris cantik pada rambut keritingnya. Mestinya, anak sekecil itu bisa menikmati masa kanak-kanaknya.

Namun bagi anak seusia Latifah, terpaksa ia harus ikut berjemur matahari mengikuti sang ibu ke manapun pergi, meski harus menghirup debu-debu jalanan yang membahayakan kesehatan.

Yach..! Itulah nasib yang harus mereka pikul dan jalani. Bagi Ibu Yulianti, hidup memang harus tetap berlanjut, meski terkadang kecut. (yyw). 

  • Tentang Penulis

    Yahya Widodo

    No description yet...<br /><br />

  • Tentang Editor

    Yahya Widodo

    No description yet...<br /><br />

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00