• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

FEATURE

Arang Bambu Bantul Sampai Ke Turki

19 September
12:29 2016
0 Votes (0)

KBRN, Yogyakarta : Di tangan Yadi Wiyono (68), bambu yang biasanya diolah menjadi bahan bangunan dan aneka kerajinan, bisa disulap menjadi arang dengan banyak manfaat, baik untuk  kesehatan maupun kebutuhan rumah tangga. 

Pembuatan arang bambu yang dilakukannya sejak tahun 2015 silam, menempati gubuk sederhana ukuran 2,5 x 1 meter persegi, dilengkapi tobong pembakaran terbuat dari drum bekas. Tempat itu terletak di seberang jalan desa depan rumahnya, Pedukuhan Lemahbang, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul DIY.  

Dengan bantuan enam orang warga sekitar, butuh waktu seminggu untuk membuat 30 hingga 40 kilogram arang bambu, menggunakan bambu apus yang cepat kering sebanyak satu kuintal lebih, dengan usia tanam tiga tahun.

Saat akan dibakar dalam tobong, terlebih dahulu bahan baku dipotong kecil-kecil berbentuk persegi panjang ukuran  10 x 3 centimeter, namun ada juga yang dipotong berukuran 10 x 5 centimeter tergantung pesanan yang diinginkan.                            

Harga per kilogram arang bambu yang sudah jadi sekitar Rp 25 ribu, pemasaran keluar bekerjasama dengan pihak ketiga, namun warga sekitar yang membutuhkan bisa membeli langsung. Penggunaannya untuk keperluan rumah tangga bisa sampai satu bulan.                      

”Ukuran potongan tergantung pesanan, jika sudah dipotong kecil-kecil terus diikat masing-masing sebanyak 20 keping per ikat, lalu dimasukkan dalam drum untuk dibakar jadi arang selama 24 jam”, kata Yadi di rumahnya, Senin (19/9/2016).                            

Contoh arang bambu hasil produksinya, pernah dibawa ke Negara Turki untuk dipasarkan meski tidak berlanjut, karena tidak bisa memenuhi permintaan akibat terbatasnya volume produksi. Ia mengakui, persediaan tanaman bambu apus di desanya terbatas, sehingga jika permintaan banyak harus mendatangkan bahan baku dari luar daerah.

”Jika bahan baku kurang saya ambil dari Purworejo setiap 15 hari sekali, jumlahnya hingga empat rit atau setara 800 kilogram, satu rit harganya Rp 250 ribu”, ujar dia.

Yadi juga menjelaskan berbagai manfaat arang bambu, selain untuk bahan bakar memasak, menghilangkan bau pakaian, serta menghilangkan bau kurang sedap pada beras saat dimasak jadi nasi, juga bisa digunakan sebagai obat diare.

”Arang bambu ada yang bentuknya serbuk untuk obat diare, takarannya satu sendok makan dilarutkan dalam gelas berisi air, bisa diminum sesudah makan tapi setelah warna air jernih, lebih efektif lagi pada kambing yang mencret”, terangnya.                   

Tidak hanya itu saja, berdasarkan hasil ujicoba lapangan, asap hasil pembakaran dalam proses pembuatan arang bambu, juga bisa dimanfaatkan untuk mengusir hama pada tanaman pertanian.    

”Asapnya itu untuk obat wereng bisa dan sudah diujicoba, asapnya dimasukkan pada tangki penyemprot, takaran satu gelas diberi 12 liter air langsung disemprotkan”, terangnya. (WS/BSL)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00